Ringkasnya, penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) memperluas langkah bisnisnya ke infrastruktur gas melalui proyek Floating Storage Regasification Unit (FSRU) bernilai US$ 319,69 juta.
Analis menilai proyek ini berubah menjadi langkah strategis dalam transformasi bisnis AKRA, meski kontribusinya terhadap kinerja keuangan masih diproyeksikan terbatas dalam jangka pendek.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menuturkan proyek FSRU menjadi bagian dari upaya AKRA memperkuat ekosistem kawasan industri Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), secara bersamaan masuk ke segmen liquefied natural gas (LNG).
Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Peroleh Pasokan BBM hingga Juni, Cermati Rekomendasi Sahamnya
โProyek FSRU berubah menjadi langkah strategis AKRA untuk memperluas bisnis ke infrastruktur LNG dan memperkuat ekosistem JIIPE,โ ujarnya kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Dengan asumsi kapasitas sekitar 170 MMSCFD, utilisasi 70%, dan tarif regasifikasi US$0,6-0,8 per MMBtu, potensi pendapatan tahunan diestimasi berada di kisaran US$18 juta-US$25 juta atau sekitar Rp315 miliar-Rp437 miliar.
Sementara itu, kontribusi tersebut terhadap total pendapatan AKRA yang berada di kisaran Rp42 triliun - Rp45 triliun masih relatif kecil, yakni sekitar 0,7%-1,0% pada awal operasi.
โMeski kecil terhadap revenue, bisnis ini berpotensi menyalurkan margin yang lebih tinggi dan pendapatan berulang,โ jelasnya.
Senada, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai proyek ini adalah pergeseran strategis dari bisnis distribusi menuju infrastruktur midstream dengan karakter pendapatan berbasis biaya (fee-based).
Ringkasnya, โFSRU adalah strategic pivot dari volume-driven ke fee-based recurring. Signifikansinya lebih ke re-rating tesis jangka panjang daripada katalis jangka pendek,โ ujarnya.
Dari sisi kontribusi, Wafi menilai dampak terhadap kinerja baru diproyeksikan terasa sesudah proyek mulai beroperasi pada pertengahan 2029.
Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Berpeluang Meneruskan Tren Positif, Ini Rekomendasi Sahamnya
Ringkasnya, โDalam 2-3 tahun ke depan belum ada tambahan revenue dari proyek ini,โ tambahnya.
Terkait kerja sama dengan Hyundai Industries, kedua analis menilai kolaborasi ini menyalurkan nilai tambah dari sisi eksekusi proyek.
Sukarno mengungkap pengalaman Hyundai di proyek LNG dan maritim dapat menekan risiko konstruksi dan meningkatkan kredibilitas proyek.
Sementara Wafi menilai rekam jejak perusahaan asal Korea Selatan tersebut berubah menjadi faktor positif, meski risiko masih ada.
โRisiko eksekusi lebih ke regulatory approval dan kesiapan lokasi di Indonesia yang historis berubah menjadi bottleneck proyek infrastruktur energi,โ jelas Wafi.
Analis juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, mulai dari potensi pembengkakan biaya (cost overrun), keterlambatan proyek, hingga risiko pendanaan yang berpotensi meningkatkan leverage.
Selain itu, ketidakpastian permintaan LNG dan belum terkuncinya kontrak jangka panjang juga berubah menjadi perhatian.
Ringkasnya, baca Juga: Kenaikan Impor BBM Berpotensi Mengerek Kinerja AKR Corporindo (AKRA)
Ringkasnya, โEmpat risiko utama meliputi funding risk, timeline risk, offtake risk, dan LNG demand risk,โ kata Wafi.
Ringkasnya, secara keseluruhan, proyek FSRU dinilai menarik sebagai bagian dari strategi jangka panjang AKRA dalam transisi energi.
Sementara itu, dalam jangka pendek, kinerja perseroan masih akan ditopang oleh bisnis distribusi bahan bakar minyak dan pengembangan kawasan industri JIIPE.
Untuk rekomendasi, Kiwoom Sekuritas menyalurkan rekomendasi akumulasi saham AKRA dengan target harga Rp1.565 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

