PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) membukukan pendapatan neto sebesar Rp1,62 triliun pada semester I-2026 atau meningkat 16,8 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya sebesar Rp1,38 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, Perseroan juga berhasil menekan rugi usaha hingga 99,4 persen menjadi hanya Rp380 juta dari sebelum itu Rp68,40 miliar.
Perbaikan kinerja operasional itu ditopang oleh disiplin efisiensi biaya serta meningkatnya permintaan layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) di Indonesia maupun Australia. Di sisi lain, rugi periode berjalan turut membaik 16 persen berubah menjadi Rp178,28 miliar dari Rp213,20 miliar pada semester I-2025.
Pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari kinerja Probiotec di Australia yang terus membukukan penjualan positif di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Sementara itu, kontribusi bisnis di Indonesia relatif stabil seiring Perseroan melanjutkan restrukturisasi portofolio guna meningkatkan profitabilitas.
Selain itu, optimalisasi model bisnis dan efisiensi di berbagai proses operasional turut membantu menekan biaya produksi. Hal tersebut tercermin pada laba bruto yang meningkat 27 persen menjadi Rp373,13 miliar, dengan margin laba bruto meningkat ke 23 persen dari 21 persen pada periode serupa tahun sebelum itu.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

