PT Astra International Tbk. (ASII) membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga semester I tahun 2026 tercatat sebesar Rp12,53 triliun. Laba tersebut turun 19,22% dari periode serupa tahun 2025 yang sebesar Rp15,5 triliun Mengutip laporan keuangannya yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ASII membukukan pendapatan bersih pada paruh tahun berjalan sebesar Rp157,9 triliun atau turun 3,04% dibandingkan semester I-2025 yang sebesar Rp162,85 triliun.
Di tengah penurunan pendapatan tersebut, beban pokok pendapatan juga ditekan menjadi Rp125,46 triliun, atau turun 2% dari Rp128,02 triliun pada periode serupa tahun sebelumnya. Sayangnya, penurunan beban pokok belum mampu mengimbangi pelemahan pendapatan alhasil laba bruto turun 6,84% menjadi Rp32,45 triliun, dibandingkan Rp34,83 triliun pada semester I-2025.
Selain itu, ASII juga membukukan peningkatan sejumlah beban. Beban penjualan naik 18,61% menjadi Rp6,617 triliun, dari sebelum itu Rp5,579 triliun.
Beban umum dan administrasi juga meningkat 13,2% berubah menjadi Rp11,418 triliun, dibandingkan Rp10,087 triliun pada semester I-2025. Di sisi lain, penghasilan bunga mengalami pelemahan 7,59% berubah menjadi Rp1,65 triliun dari Rp1,79 triliun.
Sementara itu, biaya keuangan berhasil ditekan 1,17% menjadi Rp1,85 triliun, dibandingkan Rp1,87 triliun pada periode serupa tahun sebelumnya. ASII juga membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar Rp95 miliar, berbalik dari keuntungan selisih kurs bersih sebesar Rp194 miliar pada semester I-2025.
Pos beban lain-lain bersih juga meroket menjadi Rp2,51 triliun, dari posisi penghasilan lain-lain bersih sebesar Rp944 miliar pada tahun sebelum itu. Di tengah tekanan tersebut, kontribusi dari ventura bersama dan entitas asosiasi meningkat signifikan 35,31% menjadi Rp5,12 triliun, dibandingkan Rp3,78 triliun pada semester I-2025.
Alhasil, laba sebelum pajak penghasilan Astra turun tajam 30,30 % menjadi Rp16,73t riliun, dari Rp24 triliun pada semester I-2025. Beban pajak penghasilan turut turun 25,13% menjadi Rp3,38 triliun, dibandingkan Rp4,52 triliun pada periode serupa tahun sebelum itu.
Setelah dikurangi pajak, laba periode berjalan tercatat sebesar Rp13,34 triliun, merosot 31,50% dibandingkan laba semester I-2025 yang menyentuh Rp19,48 triliun. Sementara untuk penghasilan komprehensif lain setelah pajak, Astra membukukan nilai sebesar Rp3,81 triliun, meroket 739,43% dibandingkan Rp454 miliar pada semester I-2025.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya selisih kurs penjabaran laporan keuangan dalam valuta asing yang meningkat ke Rp2,06 triliun dari Rp298 miliar, lindung nilai arus kas yang berbalik menjadi keuntungan Rp1,85 triliun dari rugi Rp46 miliar, serta kenaikan bagian penghasilan komprehensif lain dari ventura bersama dan entitas asosiasi menjadi Rp1,18 triliun dibandingkan rugi Rp119 miliar pada tahun sebelum itu. Sementara itu, perseroan juga membukukan penurunan nilai wajar investasi lain-lain sebesar Rp837 miliar, berbalik dari keuntungan Rp335 miliar pada semester I-2025.
Secara keseluruhan, jumlah penghasilan komprehensif periode berjalan menyentuh Rp17,15 triliun, turun 13,95% dibandingkan Rp19,93 triliun pada semester I-2025. Adapun total aset ASII hingga semester I tahun 2026 tercatat sebesar Rp514,5 triliun atau naik jika dibandingkan akhir tahun 2025 yang sebesar Rp507,3 triliun.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

