PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) membukukan rugi bersih periode berjalan sebesar Rp3,15 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini meroket tajam sekitar 890,89% dibandingkan rugi bersih Rp317,69 juta pada periode serupa tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026 yang dikutip Rabu (29/4/2026) pendapatan TNCA sebenarnya meningkat tipis 1,34% menjadi Rp18,12 miliar. Pada kuartal I 2025, Perseroan mengantongi pendapatan Rp17,88 miliar.
Layanan kurir dan logistik menjadi kontributor utama pendapatan dengan nilai Rp18,03 miliar. Sementara itu, jasa pengiriman menggunakan truk (trucking) menyumbang Rp95,02 juta. Berdasarkan wilayah, Jakarta menyumbang pendapatan terbesar bernilai Rp16,32 miliar, disusul Bandung Rp960,91 juta, Sidoarjo Rp505,84 juta, dan Balikpapan Rp336,98 juta.
Penyebab utama pembengkakan rugi ini adalah kenaikan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan. Beban pokok pendapatan meroket 23,39% menjadi Rp17,30 miliar dari sebelum itu Rp14,02 miliar. Hal ini membuat laba kotor Perseroan tergerus menjadi Rp821,63 juta, turun drastis dari Rp3,86 miliar pada Maret 2025.
Beban operasional juga turut menekan kinerja keuangan. Beban umum dan administrasi naik ke Rp4,08 miliar dari Rp3,50 miliar. Beban penjualan juga meningkat ke Rp659,51 juta dari Rp628,92 juta. Selain itu, beban keuangan tercatat meningkat ke Rp28,79 juta dibandingkan Rp19,52 juta pada tahun sebelum itu.
Dari sisi neraca, total aset TNCA per 31 Maret 2026 menyentuh Rp53,54 miliar. Angka ini meningkat 0,51% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp53,27 miliar. Aset lancar tercatat sebesar Rp24,05 miliar, sementara aset tidak lancar menyentuh Rp29,49 miliar.
Jumlah liabilitas Perseroan mengalami kenaikan berubah menjadi Rp13,91 miliar per Maret 2026, dari Rp10,49 miliar pada akhir tahun 2025. Utang usaha kepada pihak ketiga berubah menjadi komponen terbesar liabilitas jangka pendek dengan nilai Rp9,73 miliar.
Adapun total ekuitas TNCA per Maret 2026 melemah ke Rp39,64 miliar dari posisi Desember 2025 sebesar Rp42,78 miliar. Penurunan ekuitas ini sejalan dengan defisit yang dialami Perseroan selama periode tiga bulan pertama tahun 2026.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

