PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna/HMSP) berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri hasil tembakau Indonesia pada Semester I 2026 di tengah kondisi pasar yang semakin menantang. Perseroan tercatat berhasil membukukan penjualan bersih senilai Rp56,5 triliun, laba bersih senilai Rp4,2 triliun, serta pangsa pasar senilai 29,6%.
Sementara itu demikian, volume penjualan Perseroan menurun 1,3% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu. Penurunan tersebut disebabkan oleh berlanjutnya pergeseran konsumsi ke produk dengan harga yang lebih rendah (downtrading), serta masih adanya peredaran rokok ilegal.
Dampak terbesar berlangsung di segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan penurunan penjualan sebesar 13% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu. Segmen SKT memiliki arti strategis bagi perekonomian nasional karena karakteristiknya yang padat karya serta keterkaitannya dengan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Segmen ini menciptakan puluhan ribu lapangan kerja yang mayoritas adalah perempuan yang berubah menjadi tulang punggung keluarga. Berdasarkan Studi Universitas Airlangga tahun 2022, segmen SKT memiliki dampak ekonomi berganda (economic multiplier effect) senilai 3,8 kali lipat.
Artinya, setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi yang dicatatkan pabrik SKT berpotensi menciptakan sekitar Rp3.800 perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar. "SKT telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Sampoerna selama lebih dari satu abad, dan terus menjadi salah satu pilar strategis Perseroan. Kami akan terus memperkuat segmen ini sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha secara bersamaan menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan," ujar Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026). "Melalui kegiatan usaha kami, Sampoerna menciptakan sekitar 90 ribu lapangan kerja serta mengembangkan rantai nilai domestik, termasuk melalui kemitraan dengan 22.500 petani tembakau dan cengkih melalui mitra pemasok," tambah dia.
Sampoerna juga mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau. Kebijakan ini, bersama dengan upaya pemberantasan rokok ilegal, menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi industri legal untuk berpotensi terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional, berkontribusi dalam penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja.
Ke depan, Sampoerna diproyeksikan terus menciptakan nilai jangka panjang melalui inovasi yang berkelanjutan, pengembangan sumber daya manusia, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui ketiga pilar tersebut, Perseroan berkomitmen untuk memperkuat daya saing usaha, mendorong penciptaan peluang ekonomi, serta menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat luas.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

