Jakarta, CNBC Indonesia โ PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) membukukan laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,4 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut meningkat 40,3% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya, termasuk kontribusi dari pengalihan portofolio kredit pensiun kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Pada paruh pertama tahun berjalan, SMBC Indonesia juga melaksanakan tahap pertama pengalihan portofolio kredit pensiun kepada BTN. Perseroan mengungkap langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan layanan kepada nasabah secara bersamaan menyalurkan fleksibilitas dalam mengalokasikan modal dan sumber daya ke area bisnis yang dinilai lebih potensial.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar menuturkan kinerja semester I-2026 mencerminkan upaya perseroan memperkuat fondasi bisnis agar dapat meningkat secara sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan. Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit konsolidasi menyentuh Rp185,3 triliun hingga akhir Juni 2026.
Pertumbuhan ditopang oleh kredit korporasi dan komersial yang naik 12,8% yoy, kredit segmen digital savvy melalui Jenius (di luar digital micro) yang meningkat 9,9% yoy, pembiayaan BTPN Syariah yang meningkat 8,7% yoy, serta pembiayaan Grup OTO yang naik 5,8% yoy. SMBC Indonesia juga membukukan pendapatan operasional konsolidasi sebesar Rp8,6 triliun, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp7,5 triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp1 triliun.
Sementara itu, biaya kredit turun 14,8% yoy menjadi Rp2,1 triliun, sementara total aset meningkat 4,7% yoy menjadi Rp245,5 triliun pada akhir Juni 2026. Dari sisi pendanaan, saldo dana murah (CASA) meningkat 37,4% menjadi Rp60,1 triliun.
Rasio CASA juga meningkat ke 47,5% dari 39,8% pada periode serupa tahun sebelum itu. Adapun rasio kecukupan modal (CAR) tercatat berada di level 30,7% per 30 Juni 2026.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

