Kinerja PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) terlihat moncer di kuartal I-2026. Di mana perusahaan berhasil bukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih pada periode tiga bulan pertama tahun 2026.
Melansir laporan kinerja keuangannya, penjualan ULTJ menyentuh Rp2,78 triliun, meningkat 21,84% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode sebelum itu sebesar Rp2,28 triliun.
Secara rinci, penjualan dari segmen minuman menyentuh Rp2,93 triliun dan segmen makanan menyentuh Rp13,6 miliar. Total penjualan tersebut dikurangi biaya eliminasi sebesar Rp164,62 miliar.
Seiring dengan kenaikan penjualan, beban pokok penjualan juga meningkat ke Rp1,83 triliun dari Rp1,49 triliun. Meski demikian, laba bruto tetap meningkat menjadi Rp950 miliar dari Rp792,67 miliar pada periode sebelum itu.
Baca Juga: Wall Street Meroket: S&P 500 dan Nasdaq Bukukan Rekor Tertinggi Kembali!
Dari sisi beban operasional, beban penjualan justru menurun menjadi Rp266,13 miliar, sementara beban administrasi dan umum naik ke Rp96,70 miliar.
Perusahaan juga membukukan laba selisih kurs sebesar Rp11,12 miliar, serta keuntungan penjualan aset tetap sebesar Rp13 juta. Di sisi lain, perubahan nilai wajar hewan ternak masih membukukan rugi sebesar Rp1,93 miliar, meskipun lebih kecil dibandingkan rugi Rp11,46 miliar pada periode sebelum itu. Pendapatan lain-lain tercatat Rp5,50 miliar.
Secara keseluruhan, total beban operasional relatif stabil di kisaran Rp348,12 miliar. Hal ini mendorong laba usaha naik ke Rp601,89 miliar dari Rp445,84 miliar.
Dari sisi non-operasional, perseroan membukukan pendapatan keuangan sebesar Rp13,50 miliar dan beban keuangan yang relatif kecil sebesar Rp29 juta. Selain itu, kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama menyentuh Rp7,62 miliar.
Dengan demikian, laba sebelum pajak penghasilan naik ke Rp622,98 miliar dari Rp464,84 miliar. Setelah dikurangi beban pajak sebesar Rp120,71 miliar, laba bersih tahun berjalan tercatat Rp502,27 miliar, meningkat dari Rp366,97 miliar pada periode sebelum itu.
Ringkasnya, baca Juga: Ketidakpastian Masih Tinggi, Kebutuhan Strategi Jangka Panjang Meningkat
Perusahaan juga membukukan penghasilan komprehensif lain dari keuntungan pengukuran kembali liabilitas imbalan pasca kerja sebesar Rp5,45 miliar. Alhasil, total penghasilan komprehensif tahun berjalan menyentuh Rp507,72 miliar.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyentuh Rp495,59 miliar, meningkat 35,89% yoy dari Rp364,68 miliar.
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai, kinerja ULTJ yang meningkat pada awal 2026 ditopang oleh beberapa faktor utama.
Ia menjelaskan, pemulihan daya akumulasi masyarakat mendorong peningkatan volume penjualan. Selain itu, perbaikan distribusi serta penetrasi produk yang lebih luas turut menopang kinerja. Di sisi lain, efisiensi biaya yang dilakukan perusahaan juga berkontribusi terhadap peningkatan margin.
Wafi menambahkan, program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) kemungkinan menyalurkan kontribusi terhadap permintaan, sementara itu bukan menjadi pendorong utama reli kinerja.
Ringkasnya, “Program tersebut lebih bersifat sebagai penopang permintaan, bukan faktor utama pertumbuhan,” kata Wafi kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Untuk prospek ke depan, ia menilai kinerja ULTJ masih akan tetap positif, meskipun pertumbuhannya cenderung lebih moderat dibandingkan kuartal I-2026. Pertumbuhan pendapatan diperkirakan masih bisa membukukan double digit, sementara laba bersih berpotensi meningkat lebih normal seiring basis kinerja yang semakin tinggi.
Sejumlah katalis yang akan menopang kinerja antara lain konsumsi domestik, inovasi produk, serta stabilitas harga bahan baku, khususnya susu. Sementara itu, investor tetap perlu mencermati risiko fluktuasi harga bahan baku dan ketatnya persaingan di industri produk dairy.
Analis secara bersamaan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menambahkan, prospek ULTJ relatif positif sementara itu cenderung moderat.
Pertumbuhan di sisa tahun 2026 berpotensi masih berlanjut, didukung oleh konsumsi domestik yang stabil, potensi lanjutan program MBG dan posisi jenama ULTJ yang kuat di segmen susu UHT.
Sementara itu, ada beberapa hal yang perlu dicermati, antara lain high base effect di awal tahun dapat membuat pertumbuhan secara tahunan ke depan terlihat lebih normal. Lalu potensi kenaikan harga bahan baku global seperti susu, gula, energi) yang bisa menekan margin, serta persaingan yang semakin ketat di segmen minuman bersiap konsumsi
"Dengan demikian, kinerja full year kemungkinan tetap meningkat, tetapi tidak setinggi reli di kuartal awal," tambah Elandry.
Ringkasnya, baca Juga: IHSG Lanjut Reli Tiga Hari, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing, Rabu (6/5)
Elandry menyatakan, secara valuasi ULTJ kini berada di posisi yang relatif premium dibanding emiten sejenisnya, mencerminkan kualitas fundamental yang stabil dan defensif.
Dengan mempertimbangkan pertumbuhan yang masih berlanjut sementara itu mulai normalisasi, margin yang sudah cukup optimal serta katalis MBG yang masih bertahap, maka rekomendasi yang lebih rasional adalah hold dengan kecenderungan trading buy.
Ringkasnya, untuk target harga, secara konservatif berada di kisaran Rp1.800 – Rp2.000 per saham sampai 12 bulan ke depan.
Sementara itu, Wafi merekomendasikan akumulasi saham ULTJ di level target harga Rp1.800 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

