Emiten menara telekomunikasi terafiliasi pengusaha Sandiaga Uno, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana meluncurkan surat utang atau Notes dalam mata uang asing sebesar US$ 900 juta atau setara Rp15,1 triliun.
โDana hasil penerbitan Notes diproyeksikan digunakan oleh perseroan sendiri maupun disalurkan kepada entitas anak, melalui pinjaman antar perusahaan dan/atau penyertaan modal, untuk pelunasan kewajiban utang (refinancing) jatuh tempo atau pembayaran dipercepat,โ kata manajemen Tower Bersama dalam keterangan resmi kepada otoritas bursa, Kamis (30/4/2026).
Perseroan, lanjut manajemen TBIG, akan meminta persetujuan penerbitan surat utang tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berencana digelar 9 Juni 2026.
โPenerbitan surat utang akan digelar dalam satu atau beberapa kali penerbitan dalam jangka waktu 12 bulan sejak tanggal diperolehnya persetujuan dari RUPS, dengan bunga tetap maksimal 8% per tahun,โ tulis manajemen Tower Bersama.
Manajemen TBIG menjelaskan, Notes hanya akan ditawarkan secara terbatas kepada pembeli awal yang akan diumumkan melalui situs web perseroan dan situs web Bursa Efek Indonesia paling lambat dua hari kerja setelah penyelesaian penerbitan Notes. Setelah penerbitannya, Notes akan didaftarkan di Bursa Efek Singapura.
Perseroan, menurut Manajemen TBIG, telah meluncurkan Global Notes sebesar US$ 300 juta, yang telah dilunasi lebih awal pada bulan Mei 2017, Global Notes bernilai US$ 350 juta yang telah dilunasi lebih awal pada bulan Februari 2021, Global Notes sebesar US$ 350 juta dengan tanggal jatuh tempo 21 Januari 2025, Global Notes bernilai US$ 300 juta dengan tanggal jatuh tempo 20 Januari 2026, dan Global Notes sebesar US$ 400 juta dengan tanggal jatuh tempo 2 Mei 2027.
โKelima Global Notes tersebut telah didaftarkan di Bursa Efek Singapura, alhasil perseroan berkeyakinan Notes yang akan diterbitkan juga dapat didaftarkan di Bursa Efek Singapura. Pencatatan Notes ini akan menyalurkan kepercayaan pasar terkait dengan pemenuhan persyaratan pencatatan di Bursa Efek Singapura,โ ujar Manajemen Tower Bersama.
Manajemen TBIG mengklaim bahwa sampai kini perseroan tidak pernah gagal bayar atau restrukturisasi utang di masa lalu. Kontrak jangka panjang perseroan dan entitas anak dengan pelanggan operator telekomunikasi menyalurkan kepastian atas jumlah pendapatan yang masih akan diterima di masa mendatang.
Mengingat, pendapatan yang didapat dari perjanjian sewa jangka panjang yang berasal dari penyewaan menara menyalurkan kepastian yang tinggi akan arus pendapatan berulang (recurring) dengan jangka waktu perjanjian sewa menara umumnya adalah 10 tahun.
Per 31 Desember 2025, pendapatan terkontrak yang masih akan diterima dari penyewa untuk semua jenis penyewaan adalah Rp35,7 triliun. Sementara jumlah pinjaman perseroan, di mana bagian pinjaman dalam dolar AS yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya adalah Rp29,3 triliun.
Alhasil, jumlah pendapatan terkontrak tersebut cukup untuk menutupi jumlah pinjaman perseroan.
Ringkasnya, editor: Eva Fitriani
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

