PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil membukukan laba bersih Rp2,14 triliun (Rp33 per saham) pada kuartal I 2026, meningkat 73% jika dibandingkan Rp1,23 triliun (Rp29 per saham) di kuartal I 2025.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026 yang dipublikasikan Kamis, 30 April 2026, penjualan bersih UNVR menyentuh Rp8,44 triliun pada kuartal I 2026, meningkat 2,82% dari Rp8,21 triliun pada periode sama tahun 2025.
Penjualan UNVR pada Januari-Maret 2026 didominasi pasar dalam negeri yakni Rp8,22 triliun (97,36%), sementara ekspor menyumbang Rp222,68 miliar.
Seiring penjualan, beban pokok penjualan UNVR juga naik lebih tinggi dari penjualan yakni sebesar 3,19% menjadi Rp4,37 triliun pada kuartal I 2026, dari Rp4,23 triliun pada kuartal I 2025. Laba kotor Perseroan meningkat 2,44% menjadi Rp4,06 triliun pada kuartal I 2026 dibanding Rp3,97 triliun pada kuartal I 2025.
Di sisi lain, beban pemasaran dan penjualan turun 12,15% jadi Rp1,64 triliun dari Rp1,86 triliun di kuartal I 2025. Adapun, beban umum dan administrasi meningkat 24,71% jadi Rp830,27 miliar dari Rp665,83 miliar pada kuartal I 2025. Beban lain-lain melonjak 4.352% jadi Rp30,41 miliar, dari Rp683 juta di kuartal I 2025.
Laba usaha UNVR meningkat 9,02% jadi Rp1,56 triliun pada kuartal I 2026 dibanding Rp1,43 triliun pada kuartal I 2025.
Dari sisi neraca keuangan, Unilever Indonesia memiliki total aset sebesar Rp20,01 triliun per Maret 2026, relatif stabil dibanding per Desember 2025. Jumlah liabilitas UNVR menyentuh Rp13,45 triliun, turun 13,43% dari Rp15,54 triliun per Desember 2025. Adapun ekuitas Perseroan sebesar Rp6,55 triliun. (konrad)
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

