Emiten multifinance PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) optimistis mampu menyentuh target penyaluran pembiayaan sebesar Rp6,3 triliun pada 2026 meski masih menghadapi tantangan dari tingginya tingkat suku bunga. Direktur WOM Finance Cincin Lisa Hadi menjelaskan, prospek industri pembiayaan di semester II-2026 masih dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Menurutnya, pasar masih melihat peluang BI untuk kembali memangkas suku bunga setidaknya satu kali kembali, meski tetap mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah. Diketahui, BI Rate kini berada di level 5,75%.
Angka ini telah mengalami kenaikan 100 bps sejak Mei 2026. Merespon tren tersebut, WOMF menjaga biaya dana atau cost of fund melalui strategi diversifikasi pendanaan.
WOM Finance secara aktif membandingkan sumber dana dari obligasi maupun perbankan untuk memperoleh tingkat bunga yang paling kompetitif. "Nah biasanya kita akan lihat mana sih yang lebih bagus gitu loh, dan kita juga melihat bank mana yang bisa menyalurkan dana murah pada kita, gitu, suku bunga paling murah," ujar Cincin usai Public Expose di Jakarta, Jumat, (7/6/2026). Kini, komposisi pendanaan perusahaan leasing ini masih didominasi oleh obligasi.
Nilai pendanaan dari obligasi tercatat sekitar Rp2,2 triliun, sementara pinjaman dari sektor perbankan berada di kisaran Rp1,5 triliun. Manajemen menilai kondisi likuiditas perbankan yang masih cukup longgar berpotensi berubah menjadi peluang bagi perusahaan pembiayaan untuk memperoleh sumber dana yang lebih murah.
Sementara itu demikian, WOM Finance tetap selektif dalam memilih mitra pendanaan, baik dari kelompok bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), bank swasta nasional maupun bank asing. Menurut perseroan, biaya pendanaan pada akhirnya tetap mengikuti pergerakan BI Rate.
Selain faktor suku bunga acuan, hubungan jangka panjang dengan perbankan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat bunga pinjaman yang didapat perusahaan. Dengan strategi ini, anak usaha PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) tersebut optimistis target tersebut dapat tercapai seiring tren musiman industri pembiayaan yang biasanya terangkat pada semester II. "Tadi sudah disebutkan Rp6,3 triliun targetnya.
Kini kita baru Rp2,6 triliun, mudah-mudahan sampai akhir tahun kita bisa capailah," kata Cincin. Untuk diketahui, WOMF membukukan total kredit berjalan atau piutang pembiayaan neto sebesar Rp6,4 triliun per Juni 2026, meningkat 5,2% year on year (yoy).
Dari total tersebut, kredit macet atau non performing financing (NPF) groossnya tercatat 2,53% dan nett 1,13%. Secara industri, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang perusahaan pembiayaan (multifinance) pada Juni 2026 meningkat 1,88% yoy menjadi Rp511,26 triliun, didukung peningkatan modal kerja sebesar 6,36% yoy.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

