Ringkasnya, pT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menggandeng perusahaan afiliasi dan mitra strategis internasional. Emiten milik keluarga konglomerat Adikoesoemo ini membentuk perusahaan patungan bernama PT Andalanesa Energi Primer (JVCo). Langkah tersebut diambil untuk menggarap proyek infrastruktur gas cair.
Penandatanganan perjanjian pembentukan usaha patungan ini dilakukan pada 26 Juni 2026. Nilai transaksinya menyentuh USD46,99 juta. Jika dirupiahkan, jumlah tersebut setara dengan Rp788,66 miliar.
Pihak yang terlibat dalam kerja sama ini adalah AKRA, PT Arthakencana Rayatama (AKRT), dan BW FSRU VII Pte. Ltd. (BW). AKRT adalah pemegang saham pengendali AKRA dengan kepemilikan 64,61%. Karena keterkaitan ini, kerja sama tersebut masuk dalam kategori transaksi afiliasi.
Ringkasnya, dalam perusahaan baru ini, AKRA menyetor modal USD7,47 juta atau Rp125,4 miliar. Jumlah ini setara dengan 49% saham JVCo. Pihak BW juga memegang 49% saham dengan nilai setoran yang sama. Sementara itu, AKRT memiliki 2% saham dengan setoran modal Rp5,11 miliar.
Perusahaan patungan ini fokus pada pengadaan dan pengoperasian unit penyimpanan serta regasifikasi terapung. Fasilitas ini dikenal dengan nama Floating Storage and Regasification Unit (FSRU). Kapasitas kapal gas ini menyentuh 170.000 CBM.
Proyek tersebut bertujuan memperkuat pasokan energi di Jawa Timur. Lokasi utamanya berada di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Kawasan ini adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dikelola oleh grup perusahaan.
Manajemen menjelaskan investasi ini sangat penting untuk masa depan perusahaan. โPembentukan JVCo adalah investasi strategis Perseroan untuk mendukung dan menjaga kesinambungan ketersediaan pasokan gas di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),โ tulis Direktur AKRA, Termurti Tiban, dalam keterbukaan informasi dikutip Rabu (1/7/2026).
Investasi ini diprediksi mulai menyalurkan keuntungan saat mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2029. Tambahan laba untuk perusahaan diperkirakan menyentuh Rp25,49 miliar pada tahun 2029. Angka ini diproyeksikan meroket menjadi Rp43,38 miliar di tahun 2030.
Ringkasnya, kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) RAO, YUHAL & rekan atau Truscel telah meneliti rencana ini. Mereka menyatakan transaksi tersebut wajar. Analisis penilai menunjukkan proyek FSRU memiliki nilai ekonomi positif.
Termurti menyatakan proses ini sudah mengikuti aturan yang berlaku. Termurti menekankan transaksi tersebut tidak mengandung benturan kepentingan. Prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan praktik bisnis yang berlaku umum.
Sebagai informasi, AKRA adalah salah satu pemain utama di industri logistik dan distribusi BBM di Indonesia. Perusahaan ini dipimpin oleh Haryanto Adikoesoemo, sosok yang juga dikenal luas sebagai pendiri Museum MACAN. Langkah strategis ini diharapkan memperluas portofolio bisnis perusahaan di bidang rantai pasok gas alam cair (LNG).
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

