PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) membukukan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp5,66 triliun sepanjang kuartal I-2026. Perolehan itu hanya meningkat tipis 5,21% secara tahunan atau year on year (yoy).
Mengutip laporan keuangannya, BNI membukukan pendapatan bunga 13,67% yoy menjadi Rp19 triliun. Beban bunga ikut terkerek menjadi Rp7,97 triliun.
Alhasil, pendapatan bunga bersih tercatat naik 16% yoy menjadi Rp11,03 triliun. Dalam keterangan resmi, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menerangkan bahwa kinerja keuangan BNI ditopang oleh basis dana murah (CASA) yang semakin solid.
Struktur pendanaan yang kuat ini menjadi enabler bagi ekspansi kredit, secara bersamaan menjaga efisiensi biaya dana dan mengindikasikan adanya peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat. Pertumbuhan dana murah (CASA) BNI menyentuh 26,6% yoy menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7% yoy dan tabungan yang membukukan pertumbuhan 10,4% yoy.
Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1% di Maret 2025 berubah menjadi 11,3% di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana berubah menjadi lebih efisien.
Platform digital turut menjadi pendorong utama dalam memperkuat pertumbuhan tersebut. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta, dan BNIdirect untuk korporasi membukukan pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% yoy.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit meningkat 20,1% yoy menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Penyaluran kredit ini meningkat seimbang di sisi business banking dan consumer ritel.
Dari sisi kualitas aset, rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik berubah menjadi 1,94%, Loan at Risk berada di level 8,6% atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta credit cost di level 1,1% sesuai dengan guidance. Struktur pendanaan dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) senilai 12,1% yoy.
Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga meningkat 12,6% terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel. Lantas, Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) menyentuh Rp9,3 triliun.
Meski demikian, likuiditas BNI melonggar, tercermin dari rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan alias loan to deposit ratio (LDR) BNI mengalami pelemahan 969 basis poin (bps) berubah menjadi 83,46% Sementara itu, surat berharga yang dimiliki BNI tercatat mengalami kenaikan tinggi 23,73% yoy berubah menjadi Rp220,65 triliun sepanjang kuartal I-2026. Peningkatan itu jauh melampaui pertumbuhan ekspansi kredit bank pelat merah itu. "Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin," tutur Paolo.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

