PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp5,6 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini meningkat 3,7% dibandingkan periode serupa tahun 2025 sebesar Rp5,4 triliun.
Laba bersih tersebut meningkat Rp0,2 triliun atau Rp200 miliar secara year on year (YoY). Pertumbuhan didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) senilai 12,1% YoY.
Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga BNI juga membukukan pertumbuhan 12,6% YoY. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel perseroan.
Kinerja tersebut mendorong Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) menyentuh Rp9,3 triliun. Capaian ini menjadi yang tertinggi dibandingkan kuartal I pada tahun-tahun sebelum itu.
Ringkasnya, dari sisi beban, perseroan berhasil menekan biaya dana atau cost of funds. Hal ini didukung oleh struktur pendanaan dana murah (CASA) yang semakin kuat. BNI juga mampu menjaga biaya kredit atau credit cost di level 1,1% sesuai panduan perusahaan.
Platform digital menjadi pendorong utama pertumbuhan CASA. Pengguna aplikasi wondr by BNI hingga Maret 2026 telah melampaui 13 juta. Sementara itu, platform BNIdirect membukukan pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% YoY, alhasil memperkuat dana giro korporasi.
Dari sisi neraca, penyaluran kredit BNI menyentuh Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sehat sebesar 20,1% YoY. Penyaluran kredit meningkat seimbang di segmen business banking dan consumer ritel.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tetap kuat, ditopang dana murah. CASA BNI meningkat 26,6% YoY menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026. BNI juga meningkatkan pangsa pasar CASA dari 10,1% pada Maret 2025 menjadi 11,3% pada Februari 2026.
Untuk memperkuat struktur permodalan, BNI meluncurkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar USD700 juta atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026. Penerbitan ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global, dengan permintaan menyentuh lebih dari USD2,5 miliar atau oversubscribe 3,6 kali.
BNI juga membukukan perbaikan rasio keuangan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9%, sementara Loan at Risk berada di level 8,6%. Kondisi ini lebih baik dibandingkan sebelum pandemi.
Fundamental keuangan masih solid dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) senilai 83,5%. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau CAR tercatat 18,5%, jauh di atas ketentuan regulator.
Ringkasnya, direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menilai kinerja ini mencerminkan keseimbangan yang baik. โKinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,โ ujar Paolo dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI. โBNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan masih mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,โ kata Putrama.
Di sisi lain, Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengungkap perseroan terus mendorong strategi keberlanjutan secara menyeluruh, baik dalam operasional maupun penyaluran pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

