Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam tiga bulan ke depan mulai mengintai sedikitnya lima sektor industri. Presiden KSPI Said Iqbal mengungkap sinyal pengurangan tenaga kerja itu sudah mulai disampaikan sejumlah perusahaan kepada serikat buruh di level pabrik. "Realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan," kata Said dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5), melansir detikfinance.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Ia menuturkan perusahaan-perusahaan mulai mengajak buruh berdiskusi mengenai kemungkinan efisiensi tenaga kerja seiring tekanan biaya produksi, pelemahan rupiah, serta dampak perang di Timur Tengah yang memicu reli harga energi dan bahan baku impor. Sektor pertama yang disebut paling berisiko terdampak adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester.
Berdasarkan Said, industri ini berubah menjadi yang paling cepat merasakan tekanan karena bergantung pada pasar ekspor dan bahan baku yang sensitif terhadap gejolak global. "Terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya," ujarnya.
Selain tekstil, ancaman PHK juga mulai membayangi industri plastik. Said menjelaskan mayoritas bahan baku plastik masih berasal dari impor seperti polimer dan petrokimia, alhasil pelemahan rupiah terhadap dolar AS langsung membuat ongkos produksi melonjak. "Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, alhasil industri kesulitan," katanya.
Ia menilai perusahaan plastik kini berada dalam posisi sulit karena membeli bahan baku dengan dolar AS, tetapi melepas produk di pasar domestik dalam rupiah yang sedang terkoreksi. Kondisi itu membuat harga lepas plastik naik, sementara daya akumulasi masyarakat justru turun. "Nah kalau harga plastik naik sampai 50 persen, daya akumulasi masyarakatnya jadi menurun.
Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pakai plastik, sekarang pakai daun. Nau, itu kan plastik mengalami pelemahan, itu kan ancaman PHK di industri plastik," lanjutnya.
Tekanan di industri plastik itu, berdasarkan Said, juga berpotensi merembet ke sektor elektronik. Pasalnya, banyak komponen elektronik masih menggunakan material plastik sebagai frame, casing, hingga komponen pendukung lain.
Jika harga plastik terus naik dan produksi ditekan, maka industri elektronik disebut ikut berada dalam jalur efisiensi. "Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai alhasil bisa turun harga plastik.
Ringkasnya, tapi enggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam tiga bulan kepada serikat pekerja, di elektronik pakai plastik frame-nya," ujar Said. Sektor berikutnya yang ikut disebut terancam adalah otomotif.
Ia menuturkan industri kendaraan juga sangat bergantung pada komponen berbahan plastik, mulai dari spakbor hingga berbagai bagian interior dan eksterior. Karena itu, kenaikan biaya bahan baku dikhawatirkan memicu penyesuaian produksi dan tenaga kerja. "Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pakai plastik," katanya.
Selain empat sektor tersebut, Said mengungkap industri semen juga mulai menghadapi tekanan berbeda, yakni kelebihan pasokan di tengah permintaan yang terkoreksi. Menurut dia, masuknya pabrik-pabrik baru justru memperketat persaingan saat konsumsi semen sedang lesu akibat perlambatan ekonomi. "Permintaan terhadap semen kan menyusut.
Udah mah oversupply, pabrik baru bikin kembali kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun, ya otomatis berlangsung efisiensi buruh dan pekerja ya PJK," kata dia. Said menuturkan hingga kini buruh belum menerima respons resmi dari pemerintah terkait peringatan potensi PHK massal tersebut.
Menurut dia, belum ada pula forum pembahasan khusus antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja untuk mengantisipasi ancaman gelombang pengurangan tenaga kerja dalam waktu dekat. Peringatan KSPI ini muncul di tengah tekanan global yang kembali meningkat akibat konflik Timur Tengah, reli harga energi, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Buruh menilai kondisi tersebut membuat banyak industri padat karya dan manufaktur kembali masuk fase bertahan, alhasil opsi efisiensi tenaga kerja mulai dibicarakan di internal perusahaan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

