Ringkasnya, pT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu belakangan ini.
Vice President Director ERAA Hasan Aula menuturkan, tekanan akibat penguatan dolar AS dirasakan di hampir seluruh lini bisnis perusahaan. Maka dari itu, perusahaan memperketat pengelolaan risiko nilai tukar valuta asing atau foreign exchange (forex) agar dampaknya terhadap operasional dapat diminimalkan.
Apabila ada potensi kebutuhan pembelian dalam dolar AS, Erajaya akan menjalankan langkah antisipatif melalui hedging.
"Kita tetap mengelola forex dengan lebih hati hati dan menjalankan (pendekatan) forward looking," kata Hasan dalam paparan publik, Senin (29/6/2026).
Selain strategi lindung nilai, Erajaya juga diuntungkan karena sebagian besar produk yang dipasarkan telah didapat dari pemasok lokal. Dus, eksposur perusahaan terhadap fluktuasi kurs relatif lebih terbatas.
Ringkasnya, baca Juga: IHSG Longsor 1,4% ke 5.738 di Pagi Ini (30/6), Top Losers LQ45: HRTA, AMMN, SMGR
Ringkasnya, hasan menjelaskan, hanya beberapa merek tertentu, terutama pada segmen perangkat atau device, yang masih diimpor langsung. Sementara itu, mayoritas produk yang dijual perusahaan berasal dari pembelian di dalam negeri.
"Jadi semoga ini juga bisa balancing kita punya risk forex alhasil tidak terlalu banyak membebankan perusahaan dan juga konsumen," kata Hasan dalam paparan publik, Senin (29/6/2026).
Terkait target kinerja keuangan hingga akhir tahun 2026, sayangnya ERAA tidak merinci lebih lanjut. Yang jelas, perusahaan memastikan agenda ekspansi tetap berjalan untuk mengerek kinerja hingga akhir tahun berjalan.
ERAA akan terus memperluas portofolio merek yang dipasarkan secara bersamaan menambah jumlah gerai sebagai bagian dari strategi memperkuat bisnis dan menjangkau lebih banyak konsumen.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Terkoreksi ke Rp17.872 Per Dolar AS Hari Ini (30/6), Mayoritas Asia Turun
Analis secara bersamaan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menyatakan pelemahan rupiah berpotensi menekan margin ERAA karena sebagian besar produk yang dipasarkan masih bergantung pada impor dan berdenominasi dolar AS.
"Jika depresiasi rupiah berlangsung cukup lama, biaya pengadaan diproyeksikan meningkat," kata Elandry kepada Kontan, Senin (29/6/2026).
Meski demikian, dampaknya dapat diredam melalui penyesuaian harga lepas, pengelolaan persediaan, serta bauran produk yang lebih baik, alhasil tekanan terhadap kinerja tidak selalu berlangsung secara langsung.
Ringkasnya, elandry juga menjelaskan prospek ERAA pada 2026 masih relatif positif, didukung oleh siklus peluncuran smartphone baru, ekspansi jaringan ritel, serta kontribusi bisnis non-handset seperti lifestyle dan consumer electronics.
Di sisi lain, tantangan utama berasal dari pelemahan daya akumulasi, nilai tukar rupiah, serta persaingan yang tetap ketat alhasil berpotensi menekan margin dan pertumbuhan penjualan.
Analis Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo turut menambahkan. Pelemahan rupiah berubah menjadi salah satu tantangan utama bagi ERAA mengingat sebagian besar produk yang dipasarkan, seperti smartphone dan perangkat elektronik, masih bergantung pada impor dan menggunakan mata uang dolar AS.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga pokok penjualan serta menekan margin laba apabila kenaikan biaya tidak berpotensi sepenuhnya diteruskan kepada konsumen," tambah Azis.
Secara prospek, tahun 2026 dinilai masih cukup menantang. Pelemahan rupiah, daya akumulasi yang belum sepenuhnya pulih, serta persaingan yang ketat menjadi faktor utama. Sementara itu, peluncuran produk baru, siklus penggantian smartphone, dan diversifikasi bisnis dapat menjadi penopang kinerja.
Elandry masih mempertahankan pandangan positif terhadap ERAA dengan rekomendasi buy dan target harga di kisaran Rp500 per saham. Secara valuasi, ERAA dianggap masih cukup menarik dibandingkan prospek pertumbuhan laba ke depan, meski investor masih perlu mencermati risiko dari volatilitas nilai tukar dan konsumsi domestik.
Ringkasnya, sementara itu, Azis menyarankan trading buy saham ERAA di target harga Rp384 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

