PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana menjalankan ekspansi bisnis. Emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi ini akan menambah kegiatan usaha baru melalui anak usahanya, PT Tower Bersama (TB).
Ringkasnya, kegiatan usaha baru tersebut adalah aktivitas Jasa Sistem Komunikasi Data atau Network Access Point (NAP). Langkah ini bertujuan untuk memperluas portofolio layanan perusahaan.
Manajemen TBIG menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan pemegang saham pada 24 Agustus 2026. Agenda rapat ini diproyeksikan membahas rencana perubahan kegiatan usaha tersebut.
Direktur secara bersamaan CFO TBIG, Helmy Yusman Santoso menyatakan informasi ini dalam keterbukaan informasi. Menurut Helmy, perusahaan telah memiliki kapasitas dan tenaga ahli yang memadai untuk menjalankan bisnis NAP tersebut. โPenambahan kegiatan usaha ini akan berlaku efektif setelah Perseroan memperoleh persetujuan dalam RUPS,โ tulis Helmy dalam dokumen keterbukaan informasi, Kamis (16/07/2026).
Berdasarkan studi kelayakan dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) MPR, rencana ini dinyatakan layak. Proyek NAP ini diproyeksikan menyalurkan tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return/IRR) sebesar 18.65%.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan bisnis NAP ini sekitar Rp47.4 miliar. Dana tersebut diproyeksikan digunakan untuk pembelian perangkat, sewa kontrak kapasitas, hingga biaya konsultasi.
Perseroan diproyeksikan menggunakan kas internal untuk mendanai investasi ini.
Bisnis NAP yang diproyeksikan dijalankan dirancang sebagai platform wholesale IP transit. Layanan ini ditujukan untuk melayani Internet Service Provider (ISP), korporasi, dan institusi dengan skema bisnis B2B.
Langkah ini diharapkan berpotensi meningkatkan pendapatan dan nilai tambah bagi pemegang saham. Selain itu, kehadiran unit bisnis baru ini diprediksi tidak berdampak negatif terhadap kondisi keuangan konsolidasian perseroan.
Hingga Maret 2026, TBIG membukukan kinerja keuangan yang stabil. Pendapatan perseroan pada kuartal I 2026 menyentuh Rp1.71 triliun.
Sementara itu, laba bersih tahun berjalan tercatat sebesar Rp405 miliar. Total aset TBIG per 31 Maret 2026 menyentuh Rp46.51 triliun.
Posisi ekuitas perseroan berada di angka Rp13.26 triliun. Kini, TBIG memiliki investasi langsung dan tidak langsung pada 21 anak perusahaan.
Pihak manajemen optimistis penambahan bisnis NAP akan memperkuat posisi perusahaan di industri telekomunikasi. Terlebih kembali, pasar membutuhkan konektivitas yang lebih luas dan cepat seiring berkembangnya ekosistem digital di Indonesia.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

