PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berencana menjalankan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) III atau penerbitan hmetd sebagai bagian dari rangkaian restrukturisasi penyehatan keuangan perseroan. Rencana right issue tersebut juga menjadi tindak lanjut atas aksi inbreng lahan milik PT Aviasi Pariwisata Indonesia (API) kepada PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
Sebagai implikasi inbreng lahan tersebut, kepemilikan GIAA di GMFI mengalami dilusi alhasil API menjadi pemegang saham mayoritas GMFI. Di sisi lain, Garuda tetap menjadi pemegang saham pengendali GMFI.
Sesuai Rancangan Restrukturisasi Penyehatan, inbreng lahan API adalah tahap awal dari rangkaian penyehatan Garuda Indonesia. Setelah inbreng, saham GMFI yang dimiliki API akan dialihkan kepada InJourney dan berikutnya kepada PT Danantara Asset Management (DAM) melalui pembagian dividen dalam bentuk selain uang atau dividend in specie. "Perseroan bermaksud untuk meluncurkan sebanyak-banyaknya 124.352.806.609 saham Seri E dengan nilai nominal sebesar Rp25 per saham," sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis, (1/9/2026).
Adapun harga pelaksanaan PMHMETD III akan ditetapkan dan diumumkan kemudian dalam prospektus aksi korporasi tersebut. Secara teknis, DAM selaku pemegang saham utama Garuda Indonesia kini memiliki 370.902.553.959 saham dan akan mengambil bagian atas HMETD yang menjadi haknya melalui penyetoran dalam bentuk lain atau inbreng berupa saham GMFI.
Pada saat keterbukaan informasi diterbitkan, saham GMFI yang akan menjadi objek penyetoran modal masih dimiliki oleh API. Berdasarkan RUPS API pada 26 Juni 2026, pemegang saham telah menyetujui antara lain pembagian dividen non-tunai kepada InJourney selaku pemegang saham Seri B API berupa saham GMFI bernilai Rp5,664 triliun.
Pembagian dividend in specie tersebut akan efektif setelah API memperoleh persetujuan InJourney atas pelepasan seluruh penyertaan saham API dalam GMFI dan penghapusbukuan saham GMFI serta InJourney memperoleh persetujuan DAM atas penerimaan saham tersebut. Berikutnya, berdasarkan RUPS InJourney pada 29 Juni 2026, pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen non-tunai kepada DAM selaku pemegang saham Seri B terbanyak InJourney berupa saham GMFI bernilai Rp5,664 triliun.
Pembagian tersebut diproyeksikan efektif sesudah InJourney menerima saham GMFI dari API secara efektif, memperoleh persetujuan DAM atas pelepasan dan penghapusbukuan saham GMFI, serta DAM memperoleh persetujuan RUPS atas penerimaan saham tersebut. Sesudah seluruh persyaratan dipenuhi dan saham GMFI beralih secara efektif kepada DAM, saham tersebut diproyeksikan digunakan sebagai objek penyetoran modal selain uang.
Sementara itu, bagian pelaksanaan HMETD yang berasal dari porsi publik atau masyarakat diproyeksikan disetorkan kepada perseroan dalam bentuk tunai. Garuda Indonesia memperkirakan dana hasil right issue sesudah dikurangi biaya emisi diproyeksikan digunakan untuk memperoleh saham GMFI melalui penyertaan modal DAM secara non-tunai atau inbreng.
Aksi tersebut diharapkan dapat secara langsung memperbaiki kondisi keuangan perseroan secara bersamaan membantu menunjang kegiatan operasional Garuda Indonesia. Sisa dana hasil penerbitan hmetd akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung kegiatan usaha perseroan dalam merealisasikan rencana transformasi.
Pada 2026, transformasi akan difokuskan pada stabilisasi dan pemulihan ketahanan operasional, sementara mulai 2027 dan seterusnya Garuda Indonesia Group secara bertahap menjalankan perbaikan struktural yang mencakup sumber daya manusia, proses, dan kapabilitas digital.
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

