Dibuka terkoreksi di Rp6.112,770, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (29/5/2026) kembali berakhir di zona merah. IHSG pada Jumat ini ditutup terkoreksi 2,808 poin atau turun tipis 0,05% ke level Rp6.127,381, dari penutupan Selasa (26/5/2026) di level Rp6.130,190.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mengamati pergerakan pasar kini. Menurutnya, IHSG terus mengalami tekanan. Jika dilihat sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YTD), IHSG sudah turun sebanyak 29,94%.
Nico memprediksi laju indeks komposit akan cenderung terkoreksi terbatas pada hari ini, Selasa (2/6/2026). IHSG diperkirakan bergerak pada rentang level support 5.880 dan resistance 6.220.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi terkoreksi terbatas dengan support dan resistance 5.880 – 6.220,” ujarnya.
Pada perdagangan sebelum itu, sektor infrastruktur menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 2,89%. Sebaliknya, sektor kesehatan berada di posisi terendah karena turun 1,49%. Performa IHSG menjelang akhir semester satu ini memang cukup mengecewakan bagi para investor.
Kondisi pasar global juga sedang tidak menentu. Amerika Serikat sedang menunggu data ekonomi seperti ISM Manufacturing dan data lapangan kerja JOLTS. Sementara itu, perhatian utama tertuju pada data Nonfarm Payrolls yang diprediksi menurun. Hal ini bisa berdampak buruk bagi pasar saham.
Di Eropa, angka inflasi diestimasi mengalami kenaikan. Hal tersebut membuat penjualan ritel di sana menurun. Sementara itu di Asia, data ekonomi Jepang diestimasi mencuri perhatian karena pertumbuhan ekonominya diprediksi melambat.
Ringkasnya, dari dalam negeri, pemerintah mulai menerapkan aturan baru untuk ekspor batubara, kelapa sawit, dan ferro alloy. Mulai 1 Juni 2026, para eksportir wajib melaporkan aktivitasnya kepada PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Langkah ini bertujuan agar pengelolaan ekspor lebih rapi dan mencegah kecurangan pajak.
Ketiga komoditas tersebut sangat penting bagi Indonesia. Pada 2025 saja, nilai ekspornya menyentuh USD66,13 miliar atau sekitar 23,4% dari total ekspor nasional.
Ringkasnya, pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan tiga saham pilihan untuk dipantau hari ini:
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau melepas saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

