Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi berpotensi mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Pergerakan indeks hari ini dibayangi oleh aksi lepas bersih investor asing yang cukup signifikan pada hari sebelum itu.
Fanny Suherman, CFP®, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyalurkan pandangannya mengenai kondisi pasar terkini. Ia memperingatkan adanya potensi penurunan indeks secara teknikal.
“IHSG berpotensi pelemahan kembali hari ini,” ujar Fanny dalam risetnya hari ini.
Pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026), IHSG berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,41%. Sebelum itu, pada penutupan sesi I di hari yang sama, indeks parkir di level 7.080,632 atau naik 0,12%.
Penguatan pada sesi pertama tersebut didorong oleh 362 saham yang berakhir terangkat. Sementara itu, sebanyak 303 saham ditutup turun dan 147 saham tidak mengalami perubahan harga.
Meskipun indeks terangkat, pemodal asing justru membukukan aksi lepas bersih (net sell) sekitar Rp987 miliar. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran lepas para investor luar negeri. Saham-saham tersebut meliputi BMRI, BBCA, BBRI, ANTM, hingga PTRO.
Untuk perdagangan hari ini, BNI Sekuritas menetapkan rentang batas bawah (support) IHSG pada level 6.900–7.000. Sementara itu, titik hambat atau batas atas (resistance) diestimasi berada di posisi 7.150–7.200.
Fanny juga menyalurkan beberapa ide perdagangan saham yang menarik untuk dicermati oleh investor. “Trading idea hari ini: MAPI, AKRA, ELSA, EMAS, FORE, dan TINS,” tambahnya.
Ringkasnya, berikut rincian rekomendasi trading lengkapnya:
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau melepas saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

