Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam ke bawah level psikologis 7.000 pada Kamis (30/4/2026) di tengah tekanan lepas yang meningkat, seiring pelemahan nilai tukar rupiah, gejolak harga energi global, serta aksi lepas investor asing yang berlanjut di pasar modal Indonesia.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG turun signifikan 1,70 persen ke 6.980,16. Nilai transaksi menyentuh Rp6,03 triliun dan volume 15,08 miliar saham.
Sebanyak 540 saham terkoreksi, hanya 144 saham terangkat, dan 275 sisanya stagnan.
Ringkasnya, dengan ini, IHSG terkoreksi 7,44 persen dalam sepekan terakhir, seiring hanya sekali menghijau dalam 9 hari perdagangan bursa di tengah tekanan di saham big cap bank besar dan konglomerasi.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap IHSG kini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang saling memperburuk sentimen pasar.
Ia menjelaskan, kondisi nilai tukar dan ketegangan geopolitik berubah menjadi pemicu utama pelemahan indeks.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

