IHSG naik +2,1% dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terangkat +0,7% ke level Rp17.870 pada Jumat (12/6), didorong oleh turunnya harga minyak seiring optimisme tercapainya kesepakatan AS–Iran dan klaim Danantara bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia hanya akan bertindak sebagai pengawas ekspor dan bukan sebagai broker/trader.
Di sisi lain, Fitch Ratings menuturkan bahwa eksportir komoditas Indonesia menghadapi peningkatan risiko kredit, menyusul kewenangan yang diberikan Peraturan Pemerintah No. 24/2026 kepada PT Danantara Sumberdaya Indonesia untuk menentukan harga lepas ekspor serta dapat menentukan margin per 1 Januari 2027. Fitch menilai bahwa aturan ini berpotensi mengikis fleksibilitas penetapan harga, mengurangi kendali atas hasil ekspor, memperpanjang hari piutang, serta memicu hambatan logistik dan administrasi selama masa transisi.
Fitch menambahkan bahwa dampak risiko–risiko tersebut kemungkinan akan lebih mudah dikelola untuk perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat atau operasi yang terdiversifikasi. Mengingat detail kebijakan masih belum pasti, Fitch mengungkap bahwa profil kredit sektor pertambangan dan perkebunan Indonesia akan bergantung pada pendekatan implementasi dan desain kebijakan.
Potensi meredanya konflik AS–Iran — yang mendorong harapan harga energi yang lebih rendah dan meredanya risiko geopolitik — mengangkat sentimen risk–on global dengan bursa saham AS dan Eropa kompak terangkat, sementara IHSG naik hingga menembus level psikologis 6.000. Tren penurunan harga minyak, ditambah kenaikan harga Pertamax sebesar +32%, berpotensi meringankan beban impor energi Indonesia secara bersamaan meredakan kekhawatiran pelebaran defisit fiskal yang sempat menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke atas 18.000.
Ringkasnya, sementara itu, penegasan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai pengawas ekspor (bukan pengambil alih) memicu rebound saham komoditas yang sempat terkoreksi, seperti $AADI (+7,45%), $ITMG (+5,03%), $MBMA (+7,59%), dan $NCKL (+13,38%). Meski demikian, bagaimana implementasi riil di lapangan — termasuk terkait kewenangan menentukan harga dan margin yang dimiliki PT Danantara Sumberdaya Indonesia (berdasarkan peraturan) — menyiratkan bahwa overhang belum sepenuhnya hilang.
“Ingat, PE itu harus dihitung ke depan. Price is what you pay but value is what you get. Kalo cuma liat harga turun akumulasi, harga naik lepas, itu namanya akuntan bukan value investor.” — Hauw2x
Dalam memilih saham untuk investasi, kita dihadapkan pada berbagai pilihan sektor: perbankan, ritel, otomotif, hingga komoditas. Stockbitor Hauw2x berargumen dalam tulisannya bahwa dengan kondisi ekonomi kini, sektor komoditas lebih menarik dari big banks, meskipun sektor perbankan menawarkan stabilitas harga dan return yang konsisten.
Alasan utamanya adalah karena big banks adalah proksi ekonomi domestik; jika daya akumulasi terkoreksi dan kebijakan tidak kondusif, seperti pemangkasan bunga kredit mikro dari 24% menjadi 9%, margin bank akan tertekan dan NPL tentunya naik. Komoditas justru bersifat resilient: eksportir yang berpendapatan dolar sementara itu berbiaya rupiah justru diuntungkan saat rupiah terkoreksi, dengan forward PER yang bahkan lebih murah dari big banks dan dividen recurring yang menarik.
Dengan demikian, investor perlu jeli menimbang kondisi makroekonomi yang terus berkembang dan berubah bukan sekadar mengejar harga murah. Baca selengkapnya di sini!
Hauw2x dikenal sebagai Investor yang cukup aktif menuliskan pemikirannya terkait pasar saham disertai sudut pandang Makro Ekonomi dan mengulas emiten dengan analisa yang mendalam. Tak jarang dia menyalurkan tips & trik investasi untuk pemula.
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

