Bloomberg melaporkan bahwa Indika Energy ($INDY) sedang mempertimbangkan untuk melepas anak usaha di bidang pertambangan batu bara termal, PT Kideco Jaya Agung, dengan valuasi lebih dari US$1 miliar atau ~Rp18,1 T. INDY sendiri memiliki 91% saham PT Kideco Jaya Agung.
Narasumber anonim Bloomberg mengungkap bahwa INDY sedang bekerja sama dengan penasihat keuangan mengenai potensi divestasi tersebut dan telah menghubungi calon pembeli untuk mengukur minat awal. Narasumber Bloomberg juga mengungkap bahwa pembahasan sedang berlangsung dan INDY dapat memilih untuk mempertahankan aset tersebut.
Ringkasnya, perwakilan INDY dan PT Kideco Jaya Agung belum mengomentari isu ini.
Rumor mengenai rencana divestasi PT Kideco Jaya Agung oleh INDY sebenarnya bukan hal baru, di mana rumor tersebut sempat berseliweran di antara para pelaku pasar sejak awal 2025. Sementara itu, Direktur Utama INDY saat itu, Arsjad Rasjid, menuturkan pada Februari 2025 bahwa pihaknya belum berencana menjual PT Kideco Jaya Agung.
Sebelum itu, INDY telah menjual salah satu entitas usahanya di bidang pertambangan batu bara termal dan metalurgi bituminous, PT Multi Tambangjaya Utama, bernilai US$218 juta kepada Petrindo Jaya Kreasi ($KEUNTUNGAN) pada Februari 2024.
Mengasumsikan nilai valuasi US$1 miliar atau ~Rp18,1 T yang disebutkan di atas adalah enterprise value (EV), transaksi tersebut โ jika terwujud โ mencerminkan angka valuasi penjualan aset yang relatif premium dibandingkan beberapa perusahaan batu bara sejenis (lihat tabel). Sebagai informasi tambahan, nilai total aset PT Kideco Jaya Agung tercatat ~US$640 juta per 31 Maret 2026, sementara itu kami belum mengetahui komposisi total aset tersebut antara liabilitas dan ekuitas.
Sementara itu, nilai valuasi US$1 miliar (~Rp18,1 T) juga lebih besar dibandingkan market cap INDY di level Rp13 T per Kamis (16/7). Harga saham INDY sendiri terangkat +11,6% pada perdagangan hari ini.
Ringkasnya, โJika Anda membeli perusahaan dengan fundamental yang kuat, utang yang aman, dan valuasi yang wajar, Anda tidak perlu panik atau FOMO saat ada berita aksi korporasi.. Sebaliknya, jika Anda terus nekat membeli saham spekulatif yang rapuh hanya demi mengejar momentum, Anda sedang menyerahkan uang Anda secara sukarela ke dalam jebakan pasar.โ โ hsnbsybn
Stockbitor hsnbsybn menulis tentang bagaimana kita sebagai investor ritel selayaknya memandang berbagai jenis aksi korporasi. Kita harus melihat potensi positif dan negatif pada setiap aksi korporasi, di mana selalu ada kemungkinan perusahaan yang menawarkan penerbitan hmetd atau stock split melakukannya karena membutuhkan dana tambahan dengan alasan kondisi keuangan perusahaan yang kurang sehat.
Dengan demikian, beliau mengajak kita untuk kembali memeriksa fundamental perusahaan: dari segi kesehatan neraca, konsistensi laba bersih, dan tata kelola perusahaan yang masih sehat dan wajar. Sebagai pemilik saham, itu setara dengan memiliki sebagian dari perusahaan tersebut; yang berarti kita memiliki tanggung jawab untuk menjalankan riset dan menarik kesimpulan analisa kita masing-masing.
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

