PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) membukukan kinerja keuangan positif pada kuartal I-2026. Perseroan melihat kinerja tahun berjalan dengan optimistis, sementara itu dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Pada posisi akhir Maret 2026, bank yang adalah bagian dari Grup Salim ini membukukan laba bersih Rp52,98 miliar, meroket 268% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut didukung oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 8,39% (yoy) menjadi Rp172,53 miliar. Kemudian pendapatan operasional selain bunga meroket 600,76% (yoy) menjadi Rp104,11 miliar.
Dari sisi intermediasi, BINA menyalurkan kredit sebesar Rp14,78 triliun, meningkat 10,35% (yoy), lebih tinggi dari industri yang meningkat 9,49% (yoy) pada Maret 2026. Pertumbuhan kredit Bank INA didukung oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar Rp23,03 triliun, meroket 21,51% (yoy).
Peningkatan DPK yang tinggi utamanya didorong oleh dana murah (current account saving account/CASA) yang meningkatkan 71,93% (yoy) menjadi Rp10,03 triliun pada kuartal I-2026. Sementara itu, total aset perseroan tercatat Rp31,29 triliun, meningkat 26,69% (yoy).
Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi menuturkan, memasuki tahun 2026, perseroan terus melangkah maju dengan optimisme tinggi untuk menjadi solusi perbankan sesuai kebutuhan nasabah.
"Kami akan fokus menyempurnakan strategi hybrid banking karena kami yakin bahwa perpaduan antara layanan digital dan kehadiran kantor fisik yang mudah dijangkau adalah kunci untuk menyalurkan solusi keuangan yang aman, cepat, dan nyaman bagi seluruh segmen nasabah, mulai dari individual hingga korporasi," ungkap Henry dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026).
Perseroan memiliki likuiditas yang sangat longgar, terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) senilai 59,03% per Maret 2026, lebih rendah dari periode Maret 2025 senilai 64,96%. Hal ini menunjukkan perseroan masih memiliki ruang untuk ekspansi ke depannya dengan masih memperhatikan kondisi ekonomi.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Bank INA Yulius Purnama Junaedi menjelaskan bahwa perseroan dalam posisi optimis tapi juga berhati-hati. "Prinsip kami adalah menyalurkan kredit dengan hati-hati," jelas dia.
Menurut dia, menurunnya LDR menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank INA, yang terlihat dari reli pertumbuhan DPK pada Maret 2026 sebesar 21%. Hal ini yang membuat rasio LDR cenderung menurun, sementara itu pertumbuhan kredit juga masih meningkat dua digit.
"Jadi kami sangat bersyukur dengan kepercayaan datang dari masyarakat, alhasil mereka akan simpan dana di Bank INA. Karena untuk kredit kami tetap optimis tapi juga hati-hati, dan kami menunjukkan dengan peningkatan yang cukup baik," ungkap Yulius.
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

