PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,446 triliun pada 1Q26. Ini mencerminkan pertumbuhan tahunan (year-on-year) yang kuat sebesar 35,0% serta menandai kembalinya perseroan ke jalur pertumbuhan.
Erlin Budiman, VP of Investor Relations & Corporate Communications SSIA dalam siaran pers, Senin 11 Mei 2026 menuturkan, kinerja Keuangan Perseroan ini terutama didorong oleh kinerja luar biasa dari segmen properti yang meroket 202,1% menjadi Rp494,9 miliar di kuartal I 2026.
Segmen perhotelan juga menunjukkan momentum yang solid dengan pertumbuhan senilai 59,2% secara tahunan berubah menjadi Rp162,5 miliar. Ini mencerminkan pemulihan yang berkelanjutan dan peningkatan permintaan.
Berdasarkan Erlin, segmen konstruksi membukukan pendapatan senilai Rp835,5 miliar, dengan sedikit perlambatan selama kuartal tersebut. Hal ini terutama disebabkan oleh periode libur Idulfitri pada bulan Maret yang sementara memperlambat pelaksanaan proyek, pengakuan pendapatan, serta aktivitas pekerjaan dalam proses (work in progress).
Seiring pertumbuhan pendapatan, papar Erlin, laba kotor SSIA juga membukukan peningkatan signifikan sebesar 125,1% menjadi Rp451,9 miliar pada 1Q26. Segmen properti memimpin pertumbuhan pada kuartal ini dengan reli 295,9% alhasil laba kotor menyentuh Rp273,9 miliar, diikuti oleh segmen perhotelan yang meningkat 75,7% menjadi Rp83,9 miliar.
Sementara itu, segmen konstruksi tetap membukukan pertumbuhan moderat sebesar 5,9% dengan laba kotor menyentuh Rp98,8 miliar.
Erlin menuturkan, EBITDA SSIA pada 1Q26 telah melampaui capaian sepanjang FY25, atau menyentuh Rp271,8 miliar atau meningkat 649,0% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Segmen properti masih mendominasi sebagai pendorong utama dengan kontribusi EBITDA sebesar Rp240,7 miliar, diikuti oleh segmen konstruksi sebesar Rp64,7 miliar.
Segmen perhotelan membukukan EBITDA negatif sebesar Rp9 miliar, seiring dengan pembukaan Paradisus by Meliá Bali pada Februari 2026.
Di sisi lain, papar Erlin, SSIA membukukan kinerja laba bersih yang solid dengan membukukan laba sebesar Rp89 miliar pada 1Q26. Kinerja ini didukung oleh segmen properti yang membukukan laba bersih sebesar Rp196,1 miliar, diikuti oleh segmen konstruksi sebesar Rp40,1 miliar.
Sementara itu, segmen perhotelan membukukan rugi bersih sebesar Rp59,4 miliar pada 1Q26. Sementara itu, hal ini sejalan dengan proyeksi dimana segmen bisnis perhotelan akan beroperasi lebih optimal dan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi sepanjang sisa tahun 2026.
Ditinjau dari kas, demikian Erlin, posisi kas Perseroan pada 1Q26 tercatat senilai Rp1.140,9 miliar, menurun 19,9% dari Rp1.424,8 miliar pada FY25. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran bunga terkait renovasi Paradisus by Meliá Bali serta biaya pengembangan lahan.
Sementara itu, lanjutnya, utang berbunga tercatat senilai Rp2,350 triliun pada 1Q26, meningkat 7,4% dari Rp2.189 triliun pada FY25. Rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) pada 1Q26 tercatat senilai 28,5%. (konrad)
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

