PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam membukukan perolehan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal I tahun 2026 sebesar Rp3,4 triliun.
Capaian tersebut baik 61,9% dari kuartal I tahun 2025 yang senilai Rp2,1 triliun. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), peningkatan laba tersebut berasal dari pendapatan kontrak dengan pelanggan yang mengalami kenaikan dari Rp26,1 triliun berubah menjadi Rp29,2 triliun.
Sementara itu, beban pokok penjualan juga ikut naik dari Rp22,5 triliun menjadi Rp23,7 triliun. Alhasil laba kotor ANTM hingga kuartal I naik dari Rp3,6 triliun menjadi Rp5,6 triliun.
Berikutnya, dikurangi beban usaha yang naik dari Rp945,1 miliar jadi Rp1,1 triliun, maka laba usaha meroket jadi Rp4,5 triliun dari Rp2,6 triliun. Di sisi lain, ada penghasilan lain-lain bersih sebesar Rp279,6 miliar.
Meskipun ada beban keuangan yang naik jadi Rp107 miliar, sementara itu penghasilan lain-lain tersebut terdiri dari penghasilan keuangan sebesar Rp92,3 miliar, laba selisih kurs sebesar Rp79,7 miliar, bagian keuntungan entitas asosiasi sebesar Rp205,3 miliar, dan penghasilan operasi lain sebesar Rp9,9 miliar. Sementara laba sebelum pajak penghasilan naik jadi Rp4,78 triliun dari kuartal I tahun 2025 yang sebesar Rp2,93 triliun.
Sesudah dikurangi beban pajak penghasilan yang senilai Rp1,1 triliun, laba periode berjalan mengalami kenaikan dari 2,32 triliun berubah menjadi Rp3,66 triliun. Adapun total aset Antam hingga kuartal I tahun 2026 mengalami kenaikan jadi Rp63,2 triliun dari aset akhir tahun 2025 yang senilai Rp52,5 triliun.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

