PT Indofood Berhasil Makmur Tbk (INDF) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,72 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut terjungkal 19 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya sebesar Rp5,84 triliun.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood Anthoni Salim menuturkan penurunan laba tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi. "Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 19 persen menjadi Rp4,72 triliun dari Rp5,84 triliun pada semester pertama tahun sebelumnya, terutama karena lebih tingginya rugi selisih kurs yang belum terealisasi yang timbul dari kegiatan pendanaan, seiring melemahnya nilai tukar rupiah," ujar Anthoni melalui keterangan resmi Perseroan dalam meluncurkan kinerja keuangan, Jumat (31/7). SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Meski laba bersih menurun, perusahaan membukukan pertumbuhan pada sejumlah indikator operasional.
Penjualan neto konsolidasi naik 9 persen menjadi Rp65,53 triliun dari Rp59,84 triliun pada semester I 2025. Sejalan dengan itu, laba usaha meningkat 14 persen menjadi Rp13,29 triliun dibandingkan Rp11,69 triliun pada periode serupa tahun sebelumnya.
Marjin laba usaha juga tetap terjaga di kisaran 20,3 persen. Sementara itu, core profit yang mencerminkan kinerja operasional Perseroan meningkat 7 persen menjadi Rp6,18 triliun, dibandingkan Rp5,78 triliun pada semester I tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, Anthoni memastikan kinerja operasional Indofood masih solid di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. "Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama di tahun 2026 ini. Kami masih fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat," ujar Anthoni.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

