PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) berencana melebarkan sayap bisnis dengan merambah industri barang logam lainnya. Emiten alat kesehatan ini diproyeksikan fokus pada penyediaan jasa machining sebagai strategi diversifikasi untuk memperkuat kinerja keuangan perseroan.
Produk yang akan dicatatkan meliputi heatsink dan suku cadang otomotif. Seluruh komponen tersebut akan diproses menggunakan mesin Computer Numerical Control (CNC) milik perseroan.
Ringkasnya, rencana ekspansi ini telah melalui studi kelayakan yang disusun oleh Kantor Jasa Penilai Publik Budi, Edy, Saptono dan Rekan. Hasil kajian menyimpulkan bahwa proyek tersebut layak dijalankan berdasarkan analisis aspek pasar, teknis, model bisnis, manajemen, dan keuangan.
Berdasarkan studi tersebut, proyek memiliki Net Present Value (NPV) senilai Rp12,95 miliar dengan nilai positif. Internal Rate of Return (IRR) tercatat senilai 134,09%, jauh di atas Weighted Average Cost of Capital (WACC) senilai 13,40%.
Selain itu, proyek diestimasi memiliki masa pengembalian investasi (payback period) selama 1 tahun 9 bulan. Untuk merealisasikan rencana ini, perseroan menyiapkan investasi sekitar Rp8,97 miliar yang diproyeksikan digunakan untuk pengadaan mesin tambahan dan instalasi.
Diversifikasi usaha ini ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset produksi, khususnya sejumlah mesin CNC yang selama ini belum digunakan secara maksimal. Kehadiran lini usaha baru tersebut diharapkan berpotensi memperluas sumber pendapatan perseroan.
Direktur Utama MEDS, dr. Yenny Marlina, menyatakan langkah strategis ini diperkirakan menyalurkan dampak positif terhadap kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Perseroan juga telah memperoleh minat kerja sama dari sejumlah mitra industri.
“Pendapatan usaha Perseroan diproyeksikan mengalami peningkatan dan diharapkan ekuitas Perseroan semakin membaik,” ujar dr. Yenny Marlina dalam keterbukaan informasi.
MEDS memproyeksikan laba bersih dari lini bisnis baru ini menyentuh Rp4,40 miliar pada 2026. Keuntungan tersebut diperkirakan terus meningkat hingga menyentuh Rp5,56 miliar pada 2030.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, perseroan diproyeksikan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada Senin, 22 Juni 2026, di kantor perseroan di Cimahi.
Ringkasnya, pemegang saham yang berhak hadir adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 26 Mei 2026. Perseroan juga telah menyiapkan tenaga ahli engineering profesional untuk mengawasi operasional lini bisnis baru tersebut. (bi)
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

