Bank Central Asia ($BBCA) membukukan laba bersih bank only Rp5,1 T pada Juli 2026 (+5% YoY, +12% MoM). Hasil ini membuat laba bersih bank only selama 7M26 menyentuh Rp35,3 T (+2% YoY), setara 59% estimasi konsolidasi 2026F konsensus (vs. 7M25: 61% realisasi konsolidasi 2025).
Ringkasnya, pertumbuhan kredit dan Net Interest Margin (NIM) hingga 7M26 sejalan dengan guidance 2026 manajemen, sementara Credit Cost (CoC) lebih baik dibandingkan guidance.
NIM Mulai Membaik Sesuai Ekspektasi โ Net Interest Income (NII) mulai meningkat lebih baik pada Juli 2026 di level +4% YoY, dibandingkan +0% YoY selama 7M26. Hal tersebut sejalan dengan NIM yang mulai membaik ke level 5,5% pada Juli 2026 (vs.
Juni 2026: 5,2%), sesuai ekspektasi manajemen dalam earnings call 2Q26 bahwa NIM akan pulih mulai 3Q26. Secara kumulatif selama 7M26, NII flat secara tahunan akibat NIM yang lebih rendah, alhasil mendilusi pertumbuhan kredit yang menyentuh +8% YoY per Juli 2026.
Non Interest Income (NonโII) masih meningkat relatif solid sebesar +10% YoY pada Juli 2026 dan +7% YoY selama 7M26.
Kredit Mulai Meningkat, Provisi Menurun โ Secara nominal, kredit berada di level ~Rp1.000 T per Juli 2026, flat secara bulanan, sesudah mengalami kenaikan +4% MoM pada Juni 2026. Peningkatan kredit per Juni 2026 serta melandainya pembukuan beban provisi pada Juli 2026 (-18% YoY, -37% MoM) atau 0,3% secara CoC (vs.
Juni 2026: 0,5%, Juli 2025: 0,4%) berpotensi berubah menjadi indikasi momentum positif pada aktivitas perekonomian. Meski demikian, kelanjutan tren kedua metrik ini perlu dimonitor lebih lanjut sebelum membuat kesimpulan.
Secara umum, kami melihat momentum kinerja BBCA mulai berakselerasi memasuki 2H26, di mana kredit mulai meningkat dengan NIM yang mulai membaik. Hal ini relatif berbeda dengan Bank Mandiri ($BMRI), yang kami nilai momentum pertumbuhan kuatnya telah terlihat pada 1H26 dan diproyeksikan melandai pada 2H26.
Ringkasnya, kami sendiri melihat potensi upside bagi fundamental kinerja perbankan dari kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan, seiring tren outstanding dan yield SRBI yang mulai melandai, perpanjangan sebagian penempatan saldo anggaran lebih (SAL) oleh pemerintah, serta potensi portofolio inflow dari investor asing menyusul pengumuman RABPN 2027 yang lebih konservatif.
โDi depan sana suatu waktu nanti juga akan terulang kembali dengan saham yang berbeda. Biarkan yang bisa mengatur yah atur lah pasarnya. Kita mah berjalan saja di sisi badan besar mereka.โ โ ricky2212
Ringkasnya, semenjak penutupan bursa jumat minggu lalu, terdapat perbincangan mengenai kenaikan IHSG yang dinilai tidak sehat karena didorong oleh segelintir saham. Hal ini membuat investor kebingungan untuk menentukan sikap pada hari pembukaan bursa berikutnya.
Sementara itu, Stockbitor ricky2212 memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, fenomena seperti ini sudah beberapa kali ia saksikan.
Satu contoh nyata yang dijabarkan adalah momentum pembalikan arah bursa belakangan ini, di mana IHSG berhasil bangkit dari titik terendahnya selama lebih dari enam bulan terakhir berkat dorongan kuat dari salah satu saham utama di sektor perbankan. Selain itu, ricky2212 juga menyoroti bahwa strategi dominasi segelintir saham ini juga berlangsung pada praktik standar global seperti di bursa Amerika (didikte saham teknologi), Korea Selatan (Samsung), hingga Taiwan (TSMC).
Ringkasnya, tugas kita sebagai investor retail adalah terus belajar mengenai pola dan permainan pasar.
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

