Ringkasnya, bursa Efek Indonesia (BEI) sedang memantau ketat pergerakan tiga saham emiten. Ketiga saham tersebut adalah PT Mahkota Group Tbk. (MGRO), PT Perdana Gapura Prima Tbk. (GPRA), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA). Langkah ini diambil menyusul adanya indikasi pola transaksi tidak wajar atau Unusual Market Activity (UMA).
Pande Made Kusuma Ari A., Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI, menyalurkan penjelasan dalam keterbukaan informasi. Menurutnya, pengumuman UMA ini bertujuan untuk menyalurkan perlindungan kepada investor. Meski demikian, status UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
Pande mengungkap bursa melihat adanya pola transaksi yang tidak wajar pada saham MGRO dan GPRA. Berbeda dengan keduanya, saham BUVA masuk dalam radar pemantauan karena mengalami penurunan harga yang di luar kebiasaan.
“Bursa kini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” ujar Pande, dikutip Jumat (29/5/2026).
Informasi terakhir mengenai MGRO dipublikasikan pada 22 Mei 2026. Perusahaan menyatakan pemberitahuan rencana Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Luar Biasa.
Untuk GPRA, informasi terakhir muncul pada 21 Mei 2026. Manajemen emiten properti ini menyatakan bukti iklan pemberitahuan RUPS. Sementara itu, BUVA terakhir menyalurkan penjelasan atas volatilitas transaksi pada 25 Mei 2026.
Ringkasnya, sehubungan dengan status UMA ini, bursa meminta para investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa. Investor juga diharapkan mencermati kinerja perusahaan serta seluruh keterbukaan informasinya.
Ringkasnya, pande menyarankan investor untuk mengkaji kembali rencana aksi korporasi emiten jika belum mendapatkan persetujuan RUPS.
“Pertimbangkan berbagai kemungkinan yang berpotensi timbul di kemudian hari sebelum mengambil keputusan investasi,” tambahnya.
Berdasarkan data perdagangan Selasa (26/5/2026), saham MGRO berakhir di zona merah. Harga saham MGRO turun 5 poin atau terkoreksi 0,76% ke level Rp655. Kapitalisasi pasar emiten ini tercatat sebesar Rp2,33 triliun.
Kondisi berbeda dialami saham GPRA yang justru terangkat tipis. Harga saham GPRA naik 1 poin atau terangkat 0,98% ke posisi Rp103. Nilai kapitalisasi pasar GPRA kini menyentuh Rp440,50 miliar.
Sementara itu, saham BUVA mengalami tekanan cukup berat. Harga saham BUVA terjungkal 85 poin atau merosot 12,23% ke level Rp610. Penurunan ini membawa BUVA mengenai harga terendah tahun berjalan dengan nilai kapitalisasi pasar Rp15,02 triliun.
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau melepas saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

