Ringkasnya, menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent tengah berperang melawan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi.
Sementara itu, ketika Treasury berusaha menekan yield jangka panjang, harga minyak yang kembali menembus USD100 per barel justru mengancam memperpanjang tekanan inflasi dan membuat langkah Federal Reserve (The Fed) menjadi jauh lebih sulit.
Analis Sucor Sekuritas Ahmad Mikail Zaini menilai arah kebijakan The Fed pada September diproyeksikan berubah menjadi kunci bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Dalam riset yang terbit 11 September 2026, ia memperkirakan inflasi konsumen AS dapat berada di kisaran 3,5-3,6 persen secara tahunan (YoY) dalam beberapa meluncurkan data mendatang, di atas konsensus pasar sebesar 3,4 persen.
Ringkasnya, kenaikan tersebut terutama berpotensi datang dari kembali masuknya kejutan harga energi ke dalam rantai inflasi.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

