PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang disiplin, berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset. Hasilnya, hingga akhir Triwulan II 2026, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI meningkat di atas industri perbankan, disertai dengan perbaikan sejumlah indikator kualitas aset.
Dalam acara Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 di Jakarta, Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti menerangkan bahwa pertumbuhan tersebut adalah bagian dari strategi BRI untuk mendorong ekspansi secara sehat dan berkualitas. SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI tidak semata-mata mengejar volume penyaluran kredit, tetapi memastikan setiap ekspansi tetap berada dalam koridor risk appetite dan prinsip kehati-hatian. "Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang kami lakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Kami terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas kredit agar pertumbuhan BRI berpotensi berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Ety, Senin (31/8). Kualitas pertumbuhan tersebut tercermin dari perbaikan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL), dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 berubah menjadi 2,9 persen pada akhir Triwulan II 2026.
Perbaikan NPL ini berubah menjadi salah satu indikator efektivitas strategi pengelolaan risiko yang dijalankan BRI di tengah akselerasi penyaluran kredit. Berdasarkan Ety, BRI secara konsisten menerapkan strategi selective growth atau pertumbuhan selektif dengan mengarahkan ekspansi kepada segmen, sektor, dan nasabah yang memiliki profil risiko terukur.
Ringkasnya, strategi tersebut diikuti dengan penguatan early warning system serta optimalisasi fungsi collection dan recovery untuk menjaga kualitas portofolio secara menyeluruh. "Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery," jelas Ety.
Perbaikan kualitas kredit BRI juga terlihat pada indikator yang lebih forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR). Hingga akhir Triwulan II 2026, rasio LaR BRI membaik berubah menjadi 9,1 persen dari 9,6 persen pada akhir 2025.
Penurunan tersebut menunjukkan perbaikan profil risiko portofolio secara bersamaan mencerminkan perbaikan kualitas penyaluran kredit baru. Sejalan dengan kedua perbaikan itu, Cost of Credit (CoC) BRI juga turun dari 3,4 persen pada Q2 2025 menjadi 3,1 persen pada akhir Triwulan II 2026.
Ringkasnya, perbaikan CoC menunjukkan bahwa peningkatan kualitas aset turut berdampak positif terhadap biaya risiko perseroan. Di sisi lain, BRI memiliki keunggulan berupa jaringan yang tersebar luas dan basis nasabah yang terdiversifikasi.
Karakteristik tersebut memungkinkan BRI membangun portofolio kredit yang terdiversifikasi secara geografis maupun sektoral alhasil memperkuat daya tahan perseroan dalam menghadapi dinamika perekonomian. Pengelolaan kualitas kredit juga penting, dengan UMKM adalah core business BRI.
Bagi BRI, besarnya eksposur UMKM bukan hanya sebagai instrumen untuk memperluas inklusi keuangan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan, tetapi juga sebagai portofolio bisnis yang harus dikelola secara sehat dengan disiplin pemantauan risiko yang kuat. "Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung mengenai aktivitas produktif masyarakat. Pada saat yang sama, kami terus membuktikan bahwa portofolio tersebut dapat dikelola dengan tingkat risiko yang memadai.
Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, UMKM dapat terus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan BRI secara bersamaan memperkuat kontribusi perseroan terhadap ekonomi kerakyatan," pungkas Ety. Perbaikan kualitas aset itu pun terbukti menopang kinerja BRI yang solid.
Hingga Triwulan II 2026, total aset BRI Group menyentuh Rp2.352 triliun atau meningkat 11,7 persen YoY, sementara penyaluran kredit meningkat 16,2 persen YoY menjadi Rp1.646 triliun. Pada periode serupa, laba bersih konsolidasian perseroan tercatat sebesar Rp31,2 triliun atau meningkat 17,5 persen YoY.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

