PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melaporkan laba bersih tahun berjalan senilai Rp31,2 triliun sepanjang semester I-2026, mengalami kenaikan 17,5% secara tahunan (yoy) dari senilai Rp26,53 triliun pada tahun semester I-2025. Perolehan itu melampaui ekspektasi konsensus pasar.
Torehan kinerja itu juga tidak terlepas dari mesin pertumbuhan baru yang semakin menunjukkan kontribusi signifikan terhadap kinerja grup. Anak usaha BRI, PT Pegadaian, membukukan reli laba sepanjang semester I-2026 dan kini menyumbang lebih dari seperlima laba BRI Group.
Dalam riset terbarunya, BNI Sekuritas memaparkan laba bersih Pegadaian meroket 84% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp6,6 triliun pada semester I-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi kredit yang menyentuh 53% yoy serta net interest margin (NIM) yang tetap tinggi di level 18,2%.
Pertumbuhan bisnis Pegadaian terutama didorong oleh peningkatan penyaluran pinjaman gadai yang meningkat 62% yoy. Selain itu, produk-produk yang berkaitan dengan emas juga membukukan ekspansi yang kuat.
Kinerja tersebut membuat kontribusi Pegadaian terhadap laba BRI Group semakin besar. Kini, Pegadaian telah menyumbang lebih dari 20% laba BRI Group, menekankan perannya yang semakin penting dalam menopang pertumbuhan kinerja perseroan.
Sementara itu demikian, BNI Sekuritas juga menyoroti pelemahan pendapatan operasional lainnya pada kuartal II-2026. Total other operating income, termasuk kontribusi dari penjualan emas, turun 6,1% secara kuartalan dan 0,5% secara tahunan menjadi Rp13 triliun.
Apabila penjualan emas dikeluarkan, pendapatan operasional lainnya yang bersifat inti relatif stabil secara kuartalan, tetapi masih mengalami pelemahan 1,7% yoy berubah menjadi Rp12,4 triliun. Pelemahan tersebut terutama berasal dari pendapatan terkait treasury.
Pendapatan treasury terjungkal 82% secara kuartalan dan 81% secara tahunan menjadi Rp248 miliar. Sementara itu, keuntungan dari transaksi valuta asing berbalik negatif sebesar Rp183 miliar.
Di tengah tekanan tersebut, pendapatan dari fee dan komisi masih membukukan pertumbuhan positif sebesar 6,1% yoy. Sementara itu, pemulihan aset yang sebelum itu telah dihapus buku atau recovery of written-off assets turun 2% yoy.
Secara keseluruhan, pendapatan non bunga BRI masih dinilai relatif lemah. Penjualan emas menyalurkan dukungan terhadap angka pendapatan secara keseluruhan, tetapi belum sepenuhnya menutup pelemahan pada sejumlah sumber pendapatan lainnya.
Meski begitu, reli kinerja Pegadaian menyalurkan warna tersendiri bagi BRI Group. Pertumbuhan kredit yang agresif, margin yang tinggi, serta ekspansi bisnis gadai dan produk berbasis emas menjadikan Pegadaian semakin strategis bagi diversifikasi sumber pendapatan grup.
Sebelum itu, pada paparan kinerja secara virtual hari Senin lalu, Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari menuturkan ekosistem perusahaan anak yang semakin lengkap juga menjadi salah satu sumber penguatan bisnis BRI. Salah satu pertumbuhan paling menonjol terlihat pada Pegadaian.
Dibandingkan posisi 2021, total aset Pegadaian telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp185,8 triliun pada Juni 2026. Sementara itu, pembiayaan Pegadaian meningkat hampir tiga kali lipat menjadi Rp155,1 triliun.
Jumlah nasabah atau debitur yang dilayani juga meningkat dari 6,6 juta menjadi 9 juta nasabah dalam periode serupa. Menurut Vivi, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya peran Pegadaian dalam ekosistem keuangan BRI Group.
BRI Group juga terus memperkuat ekosistem emas melalui Pegadaian. Kini, Pegadaian memiliki layanan emas yang terintegrasi, mulai dari deposito emas, perdagangan emas, jasa titipan, tabungan emas, cicil emas, hingga gadai emas.
Vivi memaparkan per Juni 2026, deposito emas Pegadaian menyentuh 2.229 kilogram (kg), sementara pembiayaan modal kerja emas menyentuh 220 kg. Aktivitas perdagangan atau trading emas telah menyentuh 9,5 ton.
Di sisi lain, layanan jasa titipan emas mengelola sekitar 3,7 ton emas. Ekosistem emas Pegadaian juga ditopang oleh saldo tabungan emas yang menyentuh 20,2 ton dengan valuasi lebih dari Rp48 triliun.
Sementara itu, omzet cicil emas menyentuh 5,3 ton dengan valuasi hampir Rp13 triliun. Adapun outstanding pembiayaan gadai emas menyentuh sekitar 114 ton. "Bisnis emas ini bukan saja diversifikasi produk, tetapi bagian dari strategi memperluas ekosistem layanan keuangan dan investasi bagi masyarakat Indonesia secara bersamaan mengoptimalkan kekuatan Pegadaian sebagai bagian dari Holding Ultra Mikro," ujarnya.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

