PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan penurunan kinerja pada semester pertama 2026. Laba bersih Perseroan, tidak termasuk pos non-recurring, merosot 48 persen menjadi Rp4,3 triliun. Adapun pendapatan bersih konsolidasian Perseroan tercatat Rp58,0 triliun pada semester I-2026 atau turun 15 persen dibandingkan dengan periode serupa pada 2025.
“Sampai dengan semester pertama tahun 2026, pendapatan bersih konsolidasian Perseroan menyentuh Rp58,0 triliun, turun sebesar 15 persen dibandingkan dengan periode serupa di tahun 2025, terutama dikarenakan penjualan emas yang lebih rendah di PT Agincourt Resources serta penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah," kata Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk Ari Setiawan dalam Public Expose, Senin (7/9/2026).
Kendati demikian, hal tersebut berpotensi diimbangi peningkatan pendapatan dari sektor kontraktor penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs dolar AS.
Di luar kinerja operasional, United Tractors membukukan non-recurring item bernilai Rp3,3 triliun sepanjang semester pertama 2026.
Ari menjelaskan, non-recurring item tersebut terutama terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Energy Geothermal serta pembayaran terkait kegiatan sebelum itu di kawasan hutan sehubungan dengan persetujuan pemanfaatan kawasan hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

