Ringkasnya, jakarta, CNBC Indonesia — Pertumbuhan kredit PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) melambat tajam pada kuartal I-2026. Di tengah kondisi likuiditas yang justru membaik.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kredit OCBC per Maret 2026 tercatat sebesar Rp170,56 triliun. Angka ini hanya meningkat sekitar 1,3% secara tahunan (year on year/yoy) dibanding posisi Maret 2025 sebesar Rp168,42 triliun.
Padahal pada periode sebelum itu, laju pertumbuhan kredit masih cukup kencang. Kredit OCBC pada Maret 2025 meningkat sekitar 10,8% yoy dibanding Maret 2024 yang sebesar Rp152,09 triliun.
Artinya, berlangsung perlambatan signifikan dalam ekspansi kredit sepanjang setahun terakhir dan bahkan bila dibandingkan dengan posisi Desember 2025 sudah mengalami kontraksi. Menariknya, perlambatan kredit ini berlangsung ketika dana murah atau current account savings account (CASA) justru meningkat.
Giro nasabah meningkat ke Rp77,92 triliun per Maret 2026 dari Rp53,16 triliun setahun sebelum itu, sementara tabungan naik ke Rp62,25 triliun dari Rp55,35 triliun. Di sisi lain, deposito berjangka turun tajam menjadi Rp86,22 triliun dari Rp109,19 triliun pada periode serupa.
Kondisi ini menunjukkan struktur pendanaan OCBC membaik karena ketergantungan terhadap dana mahal mulai menyusut. Sementara itu likuiditas yang lebih longgar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi kredit agresif.
Kendati demikian margin bank mengalami pelemahan. Margin bersih (NIM) turun 10 basis poin secara tahunan menjadi 4%.
Langkah konservatif tersebut terlihat dari pencadangan kredit bermasalah yang kembali meningkat. Pada kuartal I-2026, OCBC membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan senilai Rp280,43 miliar.
Padahal pada periode serupa tahun sebelumnya, bank masih membukukan pembalikan cadangan sebesar Rp48,88 miliar. Meski pertumbuhan kredit melambat dan biaya pencadangan meningkat, laba bersih OCBC masih naik.
Perseroan membukukan laba bersih Rp1,36 triliun pada kuartal I-2026, meningkat dari Rp1,29 triliun pada periode serupa tahun sebelum itu. Kenaikan laba ditopang oleh perbaikan margin bunga bersih seiring turunnya beban bunga.
Beban bunga tercatat melemah ke Rp1,59 triliun dari sebelum itu Rp1,93 triliun. Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja menuturkan bahwa bank menjalankan pertumbuhan yang berhati-hati. "Pertumbuhan kredit yang tetap positif mencerminkan komitmen kami dalam mendukung kebutuhan nasabah dan perekonomian, sementara peningkatan CASA menunjukkan kepercayaan nasabah yang semakin kuat terhadap layanan kami," katanya.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

