Emiten perkebunan kelapa sawit dan karet, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diperkirakan mulai membukukan perbaikan kinerja pada kuartal II-2026 setelah tertekan pada awal tahun.
Ringkasnya, prospek tersebut ditopang musim panen yang lebih tinggi dan harga crude palm oil (CPO) global yang masih bertahan di level tinggi.
Pada kuartal I-2026, TAPG membukukan pendapatan sebesar Rp2,5 triliun, turun 5% dibandingkan Rp2,62 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan turut menekan laba bersih perusahaan ini menjadi Rp767 miliar, turun 8% dari Rp834 miliar.
Baca Juga: IHSG Terjungkal 3,54% ke 6.094 pada Kamis (21/5/2026), MEDC, DEWA, BRPT Top Losers LQ45
Pelemahan kinerja terutama dipicu penurunan volume produksi. Produksi tandan buah segar (FFB) mengalami pelemahan 6% secara tahunan berubah menjadi sekitar 698.000 ton dari 741.000 ton pada kuartal I-2025. Produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga mengalami pelemahan 2% secara year on year (yoy), sementara yield FFB menyusut 3% yoy.
Ringkasnya, meski demikian, penurunan tersebut sebagian tertahan oleh kenaikan tingkat ekstraksi minyak atau oil extraction rate (OER) sekitar 1% yoy.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai prospek kinerja TAPG pada kuartal II-2026 berpotensi membaik secara sekuensial dibanding kuartal sebelum itu.
Ringkasnya, menurutnya, perbaikan tersebut terutama ditopang masuknya musim panen yang lebih tinggi serta harga CPO global yang masih berada di kisaran MYR 4.200 hingga MYR 4.600 per ton.
"Permintaan domestik juga diestimasi mulai meningkat menjelang implementasi mandatori biodiesel B50," ujar Harry kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Sementara itu, Harry mengingatkan tantangan utama TAPG masih berasal dari sisi produksi. Cuaca kering yang mulai terasa sejak akhir Maret berpotensi menekan yield tandan buah segar pada paruh kedua kuartal II-2026.
Selain itu, kenaikan biaya pupuk akibat tensi geopolitik di Timur Tengah serta tekanan biaya tenaga kerja juga perlu diwaspadai. Meski demikian, dampak kenaikan biaya pupuk diestimasi baru diproyeksikan lebih terasa pada semester II-2026.
Ringkasnya, baca Juga: Prospek Triputra Agro (TAPG) Positif di 2026, Ditopang Harga CPO dan Program B50
Harry menambahkan, sejumlah sentimen positif masih dapat menopang prospek sektor sawit ke depan, di antaranya efektivitas implementasi program B50 mulai 1 Juli 2026 serta tren harga CPO global yang berpotensi tetap tinggi seiring ancaman El Niรฑo pada paruh kedua tahun berjalan.
Berdasarkan Harry, berdasarkan data historis, fenomena El Nino berpotensi menekan produksi CPO sekitar 5%โ10% dengan jeda waktu sekitar 6โ9 bulan sesudah puncak musim kemarau.
Meski demikian, penurunan volume produksi dinilai masih berpotensi diimbangi oleh kenaikan harga CPO akibat pengetatan pasokan global.
Ringkasnya, harry merekomendasikan buy untuk saham TAPG dengan target harga Rp2.200 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

