Prospek kinerja PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) masih positif sepanjang 2026, meskipun pertumbuhan produksi diestimasi terbatas akibat faktor cuaca dan profil kebun yang mulai menua
TAPG Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp2,5 triliun pada kuartal I-2026, turun 5% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan Rp2,62 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan turut menekan laba bersih yang tercatat sebesar Rp767 miliar, turun 8% YoY dari Rp834 miliar.
Pelemahan kinerja terutama dipicu oleh penurunan volume produksi. Produksi tandan buah segar (FFB) mengalami pelemahan 6% YoY berubah menjadi sekitar 698.000 ton (-6% YoY) dari 741.000 ton pada kuartal pertama tahun 2025. Produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) juga mengalami pelemahan 2% YoY sementara hasil FFB menyusut senilai 3% YoY.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Terkoreksi 0,07% ke Rp17.667 per Dolar AS pada Kamis (21/5/2026)
Ringkasnya, meski begitu, penurunan tersebut sebagian tertahan oleh kenaikan tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER) sekitar 1% YoY.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa memperkirakan kinerja TAPG pada 2026 masih akan meningkat moderat didukung oleh kondisi cuaca yang relatif menguntungkan seperti tahun sebelumnya.
"Kami memperkirakan pertumbuhan sekitar 2% YoY pada produksi FFB dan CPO. Risiko penurunan utama berasal dari potensi kondisi kekeringan yang berkepanjangan dalam beberapa bulan mendatang, yang berpotensi membatasi pemulihan hasil panen hingga tahun depan," tulis Yasmin pada riset tanggal 24 April 2026.
Berdasarkan Yasmin, ruang pertumbuhan produksi TAPG juga mulai dibatasi oleh profil kebun yang semakin matang, seiring meningkatnya proporsi tanaman berusia di atas 20 tahun.
Yasmin masih optimistis terhadap prospek profitabilitas perseroan. Yasmin memperkirakan laba bersih TAPG pada 2026 dapat menyentuh Rp5,10 triliun, naik 38% YoY dari realisasi 2025 sebesar Rp3,7 triliun. Pendapatan diproyeksikan meningkat ke Rp12,31 triliun dari Rp11,4 triliun pada tahun sebelum itu.
Baca Juga: Hasil RUPS Indika Energy (INDY) Berencana Bagikan Dividen Tunai US$ 3,01 Juta Bulan Depan
Optimisme tersebut ditopang oleh prospek harga CPO yang diestimasi masih tinggi. Yasmin memperkirakan harga CPO global pada 2026 berada di level RM 4.500 per ton atau mengalami kenaikan 4,7% YoY.
Kenaikan harga diestimasi didorong oleh potensi cuaca kering yang berpotensi mengganggu produktivitas sawit serta tambahan permintaan dari implementasi program biodiesel B50 di Indonesia.
"Harga CPO yang masih kuat dan kontrol biaya yang efisien diestimasi diproyeksikan menopang margin perseroan," tulis Yasmin
Senada, analis Ajaib Sekuritas Asia, Alvin Timothy Murthi menilai fundamental industri CPO masih cukup kondusif hingga 2026. Menurutnya, implementasi program B50 dan penurunan stok CPO Indonesia sekitar 10% YoY berpotensi menjaga harga CPO masih tinggi dalam jangka pendek.
Ringkasnya, alvin juga menilai profil umur tanaman TAPG masih relatif baik. Hingga Maret 2026, sekitar 81,9% area tertanam berada pada usia produktif prima 7โ20 tahun, dengan rata-rata umur kebun 14,6 tahun. Kondisi tersebut dinilai masih mendukung produktivitas panen perseroan.
Ringkasnya, di sisi industri, permintaan CPO domestik dan ekspor juga menunjukkan peningkatan menjelang implementasi program B50 pada Juli 2026.
Konsumsi domestik CPO tercatat menyentuh 4,4 juta ton pada dua bulan pertama 2026 atau naik 13% YoY. Sementara ekspor meningkat 34% YoY menjadi 6,4 juta ton. Permintaan biodiesel juga naik 15,3% YoY menjadi 2,2 juta ton.
Alvin mempertahankan rekomendasi hold untuk saham TAPG dengan target harga Rp2.200 per saham, naik dari sebelum itu Rp1.500 per saham. Alvin menilai ruang kenaikan harga saham dalam jangka pendek mulai terbatas setelah saham TAPG terangkat sekitar 34% sejak awal tahun.
Sementara itu, Yasmin menaikkan rekomendasi saham TAPG menjadi buy dengan target harga Rp2.300 per saham dari sebelum itu Rp1.940 per saham, seiring kinerja 2025 yang dinilai melampaui ekspektasi dan proyeksi pendapatan menjadi Rp12,31 triliun sepanjang 2026.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

