PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang Pangarep dikabarkan menghadapi masalah kredit macet. PMMP pun mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank sesudah menghadapi tekanan likuiditas dan keterbatasan modal kerja.
Berdasarkan situs resmi perusahaan, PMMP didirikan pada 2004 dan adalah salah satu perusahaan pengolahan serta eksportir udang di Indonesia. SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Perusahaan ini berkantor pusat di Surabaya dengan fasilitas pengolahan yang berlokasi di Situbondo dan Tarakan.
PMMP memiliki total kapasitas produksi menyentuh 25 ribu ton per tahun yang didukung fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) berkapasitas 46 ribu ton. Pada 2019, PMMP mengklaim mereka menempati peringkat kedua eksportir udang nasional berdasarkan total volume ekspor.
Ringkasnya, pMMP mengekspor produknya ke berbagai pasar utama dunia seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan sejumlah negara lainnya. Produk perusahaan juga telah menembus pasar ritel serta layanan makanan (food service) di Amerika Serikat dan Jepang.
Ringkasnya, susunan direksi PMMP terdiri dari Martinus Soesilo sebagai Direktur Utama, Hirawan Tedjokoesoemo sebagai Wakil Direktur Utama, Alin Rostanti sebagai Direktur, dan Patrick Djuanda sebagai Direktur. Sementara itu, jajaran komisaris diisi Soesilo Soebardjo sebagai Komisaris Utama, Suwarli sebagai Komisaris, serta Salis Teguh Hartono sebagai Komisaris.
Berdasarkan data pemegang saham, PT Harapan Bangsa Kita tercatat sebagai salah satu pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5 persen, yakni sebanyak 188,24 juta saham atau setara 7,27 persen. Ini adalah perusahaan yang dimiliki Kaesang Pangarep.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/7), PMMP memiliki kewajiban kredit terhadap sejumlah bank dengan total sekitar Rp2,8 triliun. Tercatat, utang ke PT Bank Permata Tbk dengan outstanding US$53,12 juta atau sekitar Rp953,4 miliar (kurs Rp17.948 per dolar AS), ditambah fasilitas senilai Rp5,49 miliar.
Perseroan juga memiliki utang kepada PT Bank Central Asia Tbk senilai US$40,29 juta atau sekitar Rp723 miliar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia senilai US$30,71 juta atau sekitar Rp551,2 miliar, serta PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai US$22,8 juta atau sekitar Rp409,1 miliar. Selain itu, PMMP masih memiliki pinjaman kepada PT Bank Maspion Indonesia Tbk senilai US$7,21 juta atau Rp129,4 miliar dan PT Bank Resona Perdania senilai US$5,99 juta atau sekitar Rp107,5 miliar. "Saldo tersebut di atas di luar utang bunga," tulis manajemen PMMP dalam keterbukaan informasi.
Perseroan mengakui mengalami kendala modal kerja dan membutuhkan sekitar US$15 juta atau sekitar Rp269,1 miliar untuk menjalankan kegiatan operasional. Akibat keterbatasan tersebut, PMMP kini hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo.
Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan skema pembayaran sesudah hasil ekspor diterima. "Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang sesudah hasil ekspor diterima oleh perseroan," tulis manajemen. Penurunan kapasitas produksi juga berdampak pada efisiensi tenaga kerja.
Sejak 2024 hingga kini, PMMP telah menjalankan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, sebanyak 82 staf tercatat mundur.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

