Prospek kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai masih menjanjikan hingga akhir 2026, meskipun jumlah pelanggan prabayarnya mengalami pelemahan secara tahunan. Analis menilai penyusutan pelanggan tersebut lebih mencerminkan strategi perusahaan dalam meningkatkan kualitas basis pelanggan ketimbang melemahnya permintaan.
Untuk diketahui, Indosat membukukan jumlah pelanggan prabayar melemah ke 92 juta pada kuartal I-2026 dari 94 juta pada periode serupa tahun sebelum itu. Sementara itu, jumlah pelanggan pascabayar stagnan di level 2 juta pelanggan.
Kendati demikian, manajemen mengungkap basis pelanggan perusahaan masih tergolong stabil, tercermin dari tren pengguna aktif harian, pengguna aktif bulanan, hingga pengguna aplikasi bulanan yang tetap sehat.
Ringkasnya, baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Pasar Menanti Sinyal The Fed soal Arah Suku Bunga
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menuturkan prospek ISAT hingga akhir 2026 masih positif. Menurutnya, penurunan pelanggan prabayar adalah bagian dari strategi optimalisasi kualitas pelanggan alhasil tidak mencerminkan pelemahan permintaan layanan telekomunikasi.
"Ke depan, pertumbuhan kinerja diestimasi diproyeksikan didorong oleh konsumsi data yang masih meningkat, perbaikan average revenue per user (ARPU), efisiensi operasional, serta potensi monetisasi aset melalui FiberCo yang berpotensi memperkuat struktur keuangan perusahaan," ujar Harry kepada Kontan, Sabtu (4/7/2026).
Harry menambahkan, sejumlah katalis diperkirakan masih menopang kinerja ISAT hingga akhir tahun. Di antaranya adalah pertumbuhan trafik data yang terus meningkat, peluang kenaikan ARPU, serta implementasi FiberCo yang berpotensi membuka sumber pendapatan baru secara bersamaan memperkuat neraca keuangan perusahaan.
Monetisasi FiberCo diperkirakan tetap berjalan sesuai rencana dan ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Langkah ini dinilai berpotensi membuka nilai tambah secara bersamaan memperkuat fleksibilitas neraca keuangan perusahaan.
Di sisi lain, bisnis AI Neocloud dinilai semakin memiliki skala yang menjanjikan. Pendapatan yang telah dikontrak diperkirakan menyentuh sekitar US$ 170 juta dalam tiga tahun ke depan. Manajemen juga mengungkap bahwa bisnis tersebut sudah menyalurkan kontribusi positif terhadap laba per saham (EPS) dan arus kas bebas (Free Cash Flow/FCF) sejak awal beroperasi.
Baca Juga: IHSG Mengalami kenaikan 0,46% ke 5.943 Sesi I Selasa (7/7), Cadangan Devisa Mengalami kenaikan ke US$145,6 Miliar
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Dari sisi industri, persaingan harga antaroperator berpotensi kembali agresif alhasil dapat menekan margin.
Sementara dari sisi makro, pelemahan daya akumulasi masyarakat, depresiasi nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya belanja modal, hingga potensi perubahan regulasi di sektor telekomunikasi juga berpotensi mempengaruhi kinerja perseroan.
Kinerja keuangan ISAT pada kuartal I-2026 tercatat meningkat dua digit. ISAT meraup pendapatan sebesar Rp15,22 triliun. Raihan ini meningkat 12,10% secara tahunan atau YoY dari Rp13,57 triliun.
Diikuti laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ISAT menyentuh Rp1,49 triliun selama Januari-Maret 2026. Ini meningkat sekitar 13,75% secara tahunan dari Rp1,31 triliun.
Ringkasnya, dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Harry masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ISAT dengan target harga Rp2.400 per saham.
“Kami menilai valuasi kini masih menarik dan didukung oleh fundamental operasional yang solid, meskipun dinamika persaingan industri tetap menjadi faktor yang perlu dicermati,” pungkas Harry.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

