Ringkasnya, pT Ciputra Development Tbk (CTRA) memasang sejumlah strategi pada tahun 2026 yang penuh tantangan untuk industri properti.
Ringkasnya, tantangan pertama berasal dari suku bunga Bank Indonesia (BI) tinggi yang ditetapkan 5,75% di bulan Juni 2026.
Kemudian, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun berjalan juga membayangi industri properti secara negatif.
Direktur Utama Ciputra Development, Candra Ciputra, menuturkan, penjualan properti perseroan masih bergantung dari kredit pemilikan rumah (KPR).
Ringkasnya, baca Juga: Kinerja Ciputra Development (CTRA) Terdampak Perlambatan Pasar Properti
Per kuartal I 2026, CTRA membukukan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp2,4 triliun.
Sebesar 72% dari jumlah itu dibayar menggunakan skema KPR, ini proporsinya juga naik sekitar 2% dari periode sama tahun sebelumnya. Sisanya dibayar secara kas 19% dan tunai bertahap 9%.
Meskipun begitu, setiap kenaikan suku bunga BI senilai 1%, konsumen tak langsung mengalami kenaikan biaya cicilan yang signifikan, walaupun bunganya memang bergerak.
“Walaupun suku bunga naik 1% pun jika dibandingkan dengan (biaya) cicilannya, maka biaya bunga per bulan itu tidak menyentuh 10% sebenarnya dari (biaya) cicilan," katanya.
Sejak awal tahun 2026, CTRA sudah memproyeksikan raihan pendapatan dan laba bersih turun 10% pada tahun berjalan.
Baca Juga: Laba Ciputra Development (CTRA) Turun 21,51% pada Kuartal I-2026, Tinjau Penyebabnya
Sebagai informasi, pendapatan CTRA selama 2025 sebesar Rp12,7 triliun atau meningkat 13% dibandingkan tahun sebelum itu sebesar Rp11,2 triliun. Laba bersih CTRA tercatat Rp2,7 triliun atau naik 25% dari tahun sebelum itu sebesar Rp2,1 triliun.
Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata menuturkan, target di 2026 ditetapkan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, karena melihat masih lesunya permintaan properti di beberapa wilayah akibat faktor penurunan daya akumulasi.
Ringkasnya, per kuartal I 2025, Ciputra telah mengantongi pendapatan Rp2,55 triliun dengan laba bersih Rp518 miliar.
Ringkasnya, meskipun target pendapatan dan laba diturunkan, tetapi CTRA masih menargetkan pencapaian pendapatan marketing sales stagnan di Rp9,5 triliun dengan mempertimbangkan situasi perekonomian global dan domestik.
Ringkasnya, baca Juga: Colliers Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasar Properti Domestik
“CTRA optimistis mampu menyentuh target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, di samping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP),” katanya.
Ringkasnya, cTRA juga telah menyiapkan stok yang diikutsertakan dalam program insentif PPN DTP di tahun 2026.
Aditya menjelaskan, di awal tahun 2026, CTRA memiliki stok PPN DTP sekitar Rp1 triliun sisa dari tahun sebelum itu.
Sementara di tahun 2026, CTRA memiliki strategi untuk mempercepat pembangunan atas unit-unit yang belum terjual agar bisa disertakan dalam program PPN DTP di tahun berjalan.
“Harapannya, unit-unit tersebut bisa diserahterimakan sebelum akhir tahun, alhasil konsumen dapat menggunakan insentif PPN DTP di tahun 2026,” katanya.
Artinya, CTRA memiliki total aset yang disertakan di program PPN DTP bernilai Rp4 triliun di tahun berjalan.
Dari marketing sales per Maret 2026, sekitar 51% atau bernilai Rp1,30 triliun adalah aset yang ikut serta dalam program insentif tersebut.
Ringkasnya, baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Punya Stok untuk PPN DTP Rp4 Triliun pada 2026
Sementara itu, CTRA membukukan bahwa penjualan aset dengan harga di bawah Rp1 miliar turun ke 8% sepanjang kuartal I. Sementara, penjualan unit di harga Rp2 miliar - Rp5 miliar mengalami peningkatan persentase komposisi.
Hal itu mengindikasikan bahwa kenaikan permintaan justru berlangsung dari segmen menengah atas. Padahal, insentif PPN DTP 100% ditujukan untuk unit rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar.
Di tengah kondisi tersebut, Direktur Ciputra Development, Harun Hajadi menekankan, insentif tersebut tetap membantu penjualan. Masalah penurunan komposisi penjualan unit CTRA di bawah Rp1 miliar tidak berkaitan langsung dengan insentif PPN DTP.
Ringkasnya, “Masalahnya belum tentu karena ada atau tidak adanya insentif, tetapi apakah permintaannya masih kuat atau tidak,” ujarnya.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

