Ringkasnya, pT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mempertimbangkan sejumlah strategi untuk membayar surat utang jatuh tempo di era suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah.
Asal tahu saja, suku bunga Bank Indonesia dikerek kembali 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% pada awal pekan ini. Sementara, rupiah di pasar spot ditutup di Rp17.989 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/6/2025), terkoreksi 0,25% dari penutupan hari sebelum itu.
Melansir laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), SMRA pada Oktober 2026 harus menjalankan pembayaran atas Obligasi Berkelanjutan IV Summarecon Agung Tahap II Tahun 2023 seri A bernilai Rp468 miliar.
Saat penerbitan surat utang tersebut, SMRA menawarkan imbal hasil bernilai 7,35% terhadap seri A. Kini, yield SBN acuan telah bertengger di level 7,51% dan akan sulit bagi SMRA meluncurkan obligasi dengan spread tenor yang tipis dengan yield acuan pada tahun berjalan.
Baca Juga: Summarecon (SMRA) Targetkan Marketing Sales Rp5,2 Triliun di Tengah Kenaikan BI Rate
Direktur SMRA, Lydia Tjio menuturkan, skema refinancing yang paling murah untuk dilakukan di tengah kondisi ini adalah melalui arus kas perusahaan.
Sebab, kenaikan suku bunga acuan berencana turut mengerek naiknya suku bunga kredit perbankan, alhasil berisiko menyalurkan biaya pendanaan yang lebih mahal.
“Untuk setiap pembiayaan, kami juga akan berusaha dan berupaya meningkatkan sales. Ini untuk menyalurkan dana sendiri yang dapat kami peroleh untuk pembiayaan apa pun,” katanya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026).
Meski begitu, Lydia menekankan, pihaknya tidak menutup kemungkinan menjalankan kombinasi pembiayaan atas surat utang jatuh tempo. Bahkan, SMRA bisa saja kembali meluncurkan surat utang di tengah kondisi kini, dengan tenor tertentu sebagai strategi lanjutannya.
“Tidak menutup kemungkinan untuk kami cari refinancing dari bank lain yang bisa menyalurkan penawaran yang lebih rendah dari yang ada, dan juga untuk obligasi,” paparnya.
Presiden Direktur Summarecon Agung, Adrianto Pitojo Adi menambahkan, pihaknya cukup optimistis pemerintah berencana kembali mendistribusikan insentif untuk dapat mengatasi risiko dari naiknya suku bunga.
“Ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Summarecon yakin sekali bahwa pemerintah diproyeksikan bisa mengatasi itu,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga: Mr DIY (MDIY) Sampaikan Dividen Perdana Sejak IPO Sebesar Rp17,62 per Saham
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

