PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menekankan komitmennya untuk terus menjalankan transformasi bisnis secara menyeluruh, termasuk di dalamnya perbaikan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) yang menjadi mandat Danantara sebagai pemegang saham pengendali. Pembenahan fundamental bisnis dilakukan KAEF dengan fokus pada restrukturisasi keuangan, penyesuaian portofolio produk, efisiensi operasional, digitalisasi, serta penyelesaian kewajiban strategis masa lalu.
Dengan dukungan Danantara, "Kimia FarmaBaru" kini bergerak dengan fondasi bisnis yang jauh lebih kuat, transparan, terdigitalisasi, dan berorientasi pada profitabilitas yang terukur. Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, berterima kasih atasdukungan Danantara yang memungkinkan KAEF mengeksekusi transformasi bisnis secara cepat. "Dukungan Danantara berubah menjadi katalis penting bagi Kimia Farma.
Manajemen baru kini telah menjalankan analisis dan mengambil pelajaran dari beban masa lalu yang disebabkan oleh investasi berlebih dan sistem pengawasan yang masih lemah. Atas kesalahan masa lalu tersebut, kami telah menjalankan tindakan korektif dan preventif menyeluruh yang kini sudah berjalan penuh," ujar Djagad dalam keterangan resmi, Kamis (3/9/2026).
Dengan pembenahan sistem fundamental serta rasionalisasi operasional dan keuangan, KAEF berhasil menjalankan transformasi bisnis dengan cepat. Setelah berhasil menekan rugi bersih dari Rp842 miliar sepanjang 2024 menjadi Rp334,9 miliar pada tahun 2025, rapor KAEF terus membaik dengan mencetak laba bersih sebesar Rp54,07 miliar pada semester I-2026.
Keuntungan itu sejalan dengan pertumbuhan penjualan neto perseroan yang menyentuh Rp4,70 triliun atau meningkat 7,6% dibandingkan dengan semester I-2025 yang bernilai Rp4,36 triliun. Laba usaha juga meroket sebesar 111,3% menjadi Rp152,21 miliar dari sebelum itu Rp72,01 miliar.
Menurut Djagad, perbaikan-perbaikan yang mulai dirasakan hasilnya menjadi prasyarat penting untuk menjalankan terobosan bisnis ke depan, alhasil KAEF dapat terus menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan Indonesia. "Kami berterima kasih kepada Danantara yang menyalurkan ruang bagi manajemen untuk menjalankan berbagai langkahbisnis dan memperbaiki diri. Tidak mudah, tetapi berkat kerja sama semua pihak, KAEF mulai keluar dari kesulitan dan kini berada dalam kondisi yang lebih baik," ujarnya.
Djagad mengakui bahwa pesan COO Danantara Dony Oskaria akan menjadi pelajaran yang penting bagi manajemen KAEF. Berbagai upaya korektif dan preventif terus dilakukan alhasil kesalahan masa lalu seperti yang dikatakan Dony Oskaria tidak berlangsung kembali.
Ringkasnya, salah satu contohnya adalah dalam mengatasi isu inefisiensi pabrik dan return oninvestment (ROI) yang rendah di masa lalu, KAEF telah merestrukturisasi strategi produksinya. KAEF kini memfokuskan kapasitas produksinya pada produk unggulan bermargin tinggi yang memiliki kepastian serapan pasar yang solid.
Ringkasnya, strategi rasionalisasi portofolio ini terbukti secara langsung meningkatkan utilisasi fasilitas produksi ke levelyang efisien. Selain itu, KAEF juga terus meningkatkan penggunaan bahan baku obat (BBO) dalam negeri untuk produksi obatnya.
Ringkasnya, sejalan dengan hal tersebut, manajemen KAEF telah mengimplementasikan perbaikan pada sistem pelaporan dan inventori anak usahanya, Kimia Farma Apotek. Meninggalkan pencatatan manual yang rentan terhadap kelalaian, KAEF kini mengoperasikan sistemIT terintegrasi (end-to-end) yang menghubungkan ribuan apotek di seluruh Indonesia secara real-time.
Digitalisasi tata kelola ini memastikan seluruh alur distribusi obat dan ketersediaan stok berpotensi dilacak dengan presisi tinggi di setiap lapisan manajemen. "Kimia Farma baru adalah entitas yang transparan, rasional dalam berekspansi, danberfokus penuh pada fundamental operasional. Kami berkomitmen menjaga momentum positif ini untuk memastikan KAEF terus berubah menjadi tulang punggung ketahanan kesehatan nasional yang tangguh secara finansial dan terdepan dalam melayani kesehatan masyarakat Indonesia," tutup Djagad.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

