Perdagangan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berlangsung ramai pada hari kelima setelah pembukaan batas harga minimum Rp50 atau dikenal sebagai "gembok gocap". Setelah tertekan selama empat hari perdagangan sebelum itu, harga saham GOTO berada di level Rp27 pada sesi I.
Nilai transaksi saham GOTO hingga akhir sesi I menembus Rp1,74 triliun, dengan volume perdagangan menyentuh 65,11 miliar saham. Aktivitas tersebut menjadi yang paling ramai dalam lima hari perdagangan terakhir, menunjukkan besarnya perhatian pelaku pasar terhadap saham perusahaan teknologi tersebut.
Ramainya perdagangan memperlihatkan bahwa penyesuaian harga setelah pembukaan batas minimum masih diikuti aktivitas transaksi yang tinggi. Pada level harga yang lebih rendah, saham GOTO menjadi sorotan investor yang mempertimbangkan peluang pemulihan secara bersamaan perkembangan fundamental perusahaan.
Pada sesi II perdagangan hari ini, saham GOTO tiba-tiba berbalik dan terbang ke level Rp30 per saham atau naik 7,14%. Volume perdagangan hingga siang ini sudah menyentuh 82,27 miliar saham, dengan nilai transaksi sejumlah Rp2,23 triliun, dan frekuensi sebanyak 132,3 ribu kali.
Analis Kafi Ananta dari BRI Danareksa Sekuritas menilai harga saham GOTO kini telah berada pada tingkat valuasi yang menarik. Menurutnya, tekanan harga selama beberapa hari terakhir perlu dicermati bersama perubahan kinerja perusahaan yang sudah membukukan laba bersih dalam dua kuartal berturut-turut. "Pada harga kini, saham GoTo sudah diperdagangkan di bawah satu kali nilai buku atau price-to-book value, padahal perusahaan sudah profitable.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa valuasi sahamnya sudah rendah dibandingkan nilai buku perusahaan," ujar Kafi Ananta. Ia menilai pencapaian profitabilitas berubah menjadi salah satu pertimbangan penting dalam membaca valuasi GOTO.
Perusahaan telah menunjukkan kemampuan mencetak laba, sementara harga sahamnya masih mengalami tekanan setelah perubahan mekanisme perdagangan. "Dengan perusahaan yang sudah membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut, harga kini membuat GoTo menjadi saham yang undervalued. Pasar perlu melihat apakah besarnya diskon tersebut masih sejalan dengan perkembangan fundamental bisnisnya," katanya.
GoTo membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026, meningkat sekitar 47% dibandingkan Rp171 miliar pada kuartal sebelum itu. Pencapaian tersebut memperpanjang tren profitabilitas perusahaan menjadi dua kuartal berturut-turut.
Pada periode serupa, pendapatan bersih GoTo menyentuh Rp5,7 triliun, meningkat 31% secara tahunan. EBITDA Grup yang disesuaikan juga melampaui Rp1 triliun untuk pertama kalinya, mendukung pencapaian target sepanjang 2026 sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Kafi Ananta menambahkan, meredanya tekanan lepas perlu dicermati bersamaan dengan tingginya aktivitas transaksi. Meski volume perdagangan yang besar belum dengan sendirinya memastikan pembalikan arah harga, kondisi tersebut menunjukkan adanya minat akumulasi yang menyerap saham yang ditawarkan di pasar. "Tekanan lepas yang mulai mereda menunjukkan bahwa harga saham GoTo sudah sangat terdiskon alhasil banyak investor mulai melirik.
Nilai transaksi yang besar memperlihatkan adanya minat pasar pada level harga kini, meskipun arah pergerakan berikutnya tetap perlu dicermati," ujarnya. Selain perbaikan kinerja, GoTo memiliki amunisi pembelian kembali saham atau pembelian kembali saham dengan persetujuan maksimal Rp3,5 triliun untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027.
Persetujuan tersebut memberi ruang bagi perusahaan untuk menjalankan pembelian kembali saham dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, serta ketentuan yang berlaku. "GoTo punya amunisi pembelian kembali saham, dan harga yang sudah terdiskon seperti sekarang menjadi waktu yang baik untuk mempertimbangkan pembelian kembali saham. Pelaksanaannya dapat menjadi sinyal keyakinan manajemen terhadap nilai perusahaan secara bersamaan mendukung kepercayaan investor," tutup Kafi Ananta.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

