PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menggelar aksi korporasi besar. Perusahaan ini akan menjalankan Penambahan Modal dengan Menyalurkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau penerbitan hmetd.
Berdasarkan keterbukaan informasi di laman Bursa dikutip Informasi ini dikutip Rabu (3/6/2026), target dana yang dikumpulkan menyentuh Rp3,6 triliun. SINI berencana meluncurkan maksimal 721.500.000 saham baru. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp100. Harga pelaksanaannya dipatok Rp5.000 per saham.
Ringkasnya, rasio penawaran ini adalah 2:3. Artinya, setiap pemilik 2 saham lama berhak mendapatkan 3 HMETD. Satu HMETD bisa digunakan untuk membeli 1 saham baru.
Jika pemegang saham lama tidak mengambil haknya, persentase kepemilikan akan turun atau terdilusi. Maksimum dilusi menyentuh 60%.
Dana hasil penerbitan hmetd akan digunakan untuk tiga keperluan utama. Pertama, sebesar Rp1,5 triliun untuk mengambil alih 99,995% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) milik PT Petrosea Tbk (PTRO).
Kedua, sekitar Rp900 miliar untuk membayar lebih awal pokok utang perusahaan kepada kreditur. Sisanya diproyeksikan dipakai untuk modal kerja SINI maupun anak usahanya.
PTRO bertindak sebagai pembeli siaga dalam aksi ini. Perusahaan tersebut bersiap menyerap sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang saham lain dengan nilai maksimal Rp580,9 miliar.
Jadwal sementara menunjukkan tanggal cum HMETD di pasar reguler dan negosiasi pada 8 Juli 2026. Periode perdagangan HMETD diproyeksikan berlangsung mulai 14 Juli hingga 20 Juli 2026.
Amir Antolis, Direktur Utama SINI, menjelaskan rencana ini melalui dokumen prospektus singkat. “Penawaran Umum Terbatas (PUT I) dalam rangka Penambahan Modal Dengan Menyalurkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu,” tulis Amir.
Berdasarkan data keuangan 2025, SINI membukukan pendapatan sebesar Rp534 miliar. Angka ini naik 22,72% dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp435 miliar.
Laba bruto perusahaan juga meningkat 8,80% menjadi Rp98 miliar. Sementara itu, perusahaan membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp41 miliar pada 2025.
Aset lancar SINI meroket tajam pada 2025 menjadi Rp687 miliar. Pada tahun sebelum itu, aset lancar hanya Rp221 miliar. Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan uang muka kontraktor sehubungan dengan aktivitas pekerjaan pertambangan batu bara.
Total liabilitas atau utang perusahaan juga mengalami kenaikan. Pada 2025, jumlah liabilitas menyentuh Rp2,2 triliun, naik dari Rp1,4 triliun pada 2024.
Aksi akuisisi KMS diharapkan memperkuat posisi SINI di industri terkait. KMS adalah perusahaan yang 99,995% sahamnya kini dimiliki oleh PTRO.
Pemegang saham pengendali SINI kini adalah PT Autum Prima Indonesia (30%), Batubara Development Pte. Ltd. (15,49%), dan Hapsoro (9%). Ketiganya menyatakan akan melaksanakan sebagian haknya dalam penerbitan hmetd ini.
Ringkasnya, rencana ini telah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Mei 2026. SINI kini menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

