Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir turut menyeret harga saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA). Pada Jumat (22/5/2026) pukul 14:39 WIB, TOBA parkir di level Rp432 per saham.
Dalam sepekan terakhir, TOBA sudah terkoreksi 22,16%. Jika ditarik lebih jauh kembali, saham emiten energi baru terbarukan ini sudah turun 41,35% sepanjang 2026 berjalan ini.
Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menilai pelemahan saham TOBA lebih dipengaruhi sentimen pasar secara umum dibanding perubahan nilai intrinsik perusahaan.
Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 78.000, Risiko Pelemahan ke US$ 70.000 Masih Terbuka
"Harga TOBA kini sudah terdiskon dan berada di bawah harga wajarnya karena terimbas penurunan IHSG secara keseluruhan," jelasnya, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap saham-saham komoditas dalam beberapa hari terakhir tidak melepas dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana pembentukan Badan Ekspor Sumber Daya Alam.
Andhika mengungkap dampak kebijakan tersebut terhadap TOBA relatif terbatas. Pasalnya, struktur pendapatan perseroan kini sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
"Pendapatan TOBA tidak terlalu terpengaruh karena kini mayoritas pendapatannya sudah berasal dari segmen non-batubara karena perubahan struktural belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar," jelasnya.
Dia menambahkan, investor perlu melihat TOBA sebagai perusahaan yang telah bertransformasi dari emiten batu bara berubah menjadi perusahaan dengan portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi.
Kini TOBA memiliki sejumlah lini usaha baru, mulai dari pengelolaan limbah atau waste management, kendaraan listrik, hingga pengembangan energi terbarukan.
Menurut Andhika, diversifikasi tersebut membuat perseroan lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas dibandingkan sebelum itu.
Baca Juga: Raharja Energi (RATU) Peroleh Restu Akuisisi Saham SMS Development US$ 141,2 Juta
"Bisnis TOBA bukan kembali bertumpu pada batu bara semata. Perseroan sudah memiliki lini bisnis waste management, kendaraan listrik, dan energi terbarukan yang relatif lebih defensif," katanya.
Ini tercermin dalam kinerja kuartal I-2026. Segmen waste management berubah menjadi kontributor terbesar pendapatan perseroan dengan nilai sekitar US$ 52 juta atau setara sekitar 60% dari total pendapatan.
Selain menjadi sumber pertumbuhan baru, bisnis pengelolaan limbah juga dinilai menyalurkan perlindungan terhadap risiko pelemahan rupiah.
Ringkasnya, andhika menjelaskan, sebagian besar pendapatan segmen tersebut dibukukan dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura (SGD) seiring ekspansi regional.
"Pendapatan dari bisnis waste management dalam USD dan SGD alhasil dapat menjadi natural hedge terhadap tren depresiasi rupiah," ujarnya.
Ringkasnya, dengan valuasi yang dinilai masih murah dan kontribusi bisnis non-batu bara yang terus meningkat, Andhika melihat saham TOBA masih menarik dicermati untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Ringkasnya, "Pasar masih dalam tahap menyesuaikan persepsi terhadap profil bisnis TOBA yang baru. Ketika perubahan ini mulai diapresiasi penuh, kami melihat ada ruang untuk re-rating valuasi," tutupnya.
Ringkasnya, baca Juga: Pasar Saham Menanti Pengumuman FTSE Russell, Ini Skenario untuk IHSG
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

