PT United Tractors Tbk (UNTR), bagian dari Astra Group membukukan pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun, turun hingga 15 persen. Penurunan pendapatan hingga dua digit tersebut dipicu dari tekanan berat mulai dari segmen alat berat hingga emas di samping adanya kejadian tak biasa yang dihadapi perseroan.
Dengan penurunan pendapatan tersebut, laba bersih UNTR terjungkal 88 persen dari Rp8,13 triliun menjadi Rp956 miliar. Selain itu, perseroan juga menghadapi pengeluaran tak rutin (non-recurring items) hingga Rp3,3 triliun akibat penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran denda atas Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Tanpa memperhitungkan non-recurring items, laba bersih UNTR menyentuh Rp3,3 triliun, turun 48 persen.
Ringkasnya, dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026), secara umum, bisnis UNTR tertekan akibat penyesuaian alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) terkait kuota batu bara yang menekan segmen bisnis alat berat dan pertambangan batu bara, baik termal maupun metalurgi. Selain itu, penghentian operasional Tambang Emas Martebe yang dikelola PT Agincourt Resources turut menekan kinerja UNTR dengan penjualan emas yang lebih rendah.
Segmen Alat BeratSegmen alat berat membukukan penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 27 persen menjadi 1.994 unit terutama disebabkan oleh penurunan penjualan big machine di sektor pertambangan sebesar 55 persen menjadi 325 unit, dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.
Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat sedikit meningkat dari Rp5,4 triliun pada semester pertama tahun sebelumnya menjadi Rp5,5 triliun. Total pendapatan bersih dari segmen Alat Berat turun 28 persen menjadi Rp15,0 triliun.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

