Penguatan nilai tukar rupiah dan meredanya sejumlah kekhawatiran pasar berubah menjadi sinyal positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa bulan ke depan.
Ringkasnya, dalam riset Samuel Sekuritas Jumat (12/6/2026) analis menilai kombinasi kebijakan agresif Bank Indonesia (BI), perbaikan sentimen terhadap Danantara, serta valuasi saham yang telah terdiskon cukup dalam membuka peluang pemulihan pasar saham domestik.
Rupiah yang sebelum itu sempat tertekan hingga menembus level Rp18.200 per USD kini berhasil terangkat ke bawah Rp18.000 per USD. Penguatan tersebut didukung langkah BI yang semakin agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Dalam sebulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan senilai 75 basis poin, termasuk kenaikan di luar jadwal (off-cycle) senilai 25 basis poin berubah menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Langkah tersebut berubah menjadi kenaikan suku bunga tidak terjadwal pertama sejak Mei 2018.
Selain kebijakan moneter yang lebih ketat, penguatan rupiah juga berpotensi memperoleh dukungan dari implementasi kebijakan ekspor mineral melalui Danantara. Kebijakan tersebut diyakini dapat mengurangi praktik under-invoicing dan meningkatkan arus masuk devisa ke Indonesia.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

