PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) membukukan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan pada awal tahun 2026. Perseroan berhasil memangkas rugi neto periode berjalan sebesar 67,16% menjadi Rp15,04 miliar per 31 Maret 2026. Pada periode serupa di tahun 2025, Perseroan masih membukukan rugi jumbo sebesar Rp45,80 miliar.
Laporan keuangan interim per Maret 2026 yang dirilis Selasa, 30 Juni 2026, menunjukkan tren positif pada pendapatan. Penjualan neto Perseroan meroket 19,45% menjadi Rp43,44 miliar dibanding Rp36,37 miliar pada periode serupa tahun sebelum itu.
Penjualan ini didominasi oleh produk Cocoa powder yang menyumbang Rp16,80 miliar. Disusul oleh Compound chocolate senilai Rp13,36 miliar, Real chocolate Rp9,05 miliar, serta produk makanan dan minuman senilai Rp4,23 miliar. Dari sisi wilayah, pasar lokal masih berubah menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp42,28 miliar, sementara ekspor menyumbang Rp1,16 miliar.
Seiring dengan naiknya penjualan, beban pokok penjualan juga merangkak meningkat ke Rp40,05 miliar dari sebelum itu Rp36,27 miliar. Meski begitu, Perseroan mampu mencetak laba bruto sebesar Rp3,39 miliar, meroket tajam dari hanya Rp99,69 juta pada tahun sebelumnya.
Di sisi biaya operasional, beban penjualan tercatat naik ke Rp5,56 miliar dari sebelum itu Rp1,20 miliar. Sebaliknya, biaya keuangan berhasil ditekan menjadi Rp7,18 miliar dari sebelum itu Rp7,95 miliar.
Melihat kekuatan neraca, total aset Perseroan per 31 Maret 2026 menyentuh Rp491,09 miliar. Angka ini sedikit menurun dibanding posisi Desember 2025 yang sebesar Rp542,27 miliar. Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya saldo kas dan bank.
Sementara itu, total liabilitas atau utang Perseroan ikut menyusut menjadi Rp393,68 miliar dari sebelum itu Rp429,48 miliar. Adapun total ekuitas tercatat sebesar Rp97,41 miliar per Maret 2026.
Meski kinerja membaik, auditor independen dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan menyalurkan catatan penekanan suatu hal. Auditor menyoroti akumulasi defisit Perseroan yang menyentuh Rp337,47 miliar per 31 Maret 2026. Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidakpastian material terkait kemampuan kelompok usaha untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, manajemen telah menyiapkan sejumlah rencana strategis. Kelompok usaha akan menjalankan penjualan dan pemasaran yang lebih agresif, meningkatkan kapasitas produksi di pabrik Sumedang, serta menjalankan efisiensi operasional. Selain itu, Perseroan juga berencana mencari sumber pendanaan baru dengan biaya bunga rendah melalui Penawaran Umum Terbatas (PUT).
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

