PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengantongi nilai kontrak baru senilai Rp5 triliun per April 2026.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin alias Emin menuturkan, kontrak baru itu terdiri dari sektor Energy & Industrial Plant sebesar 41,59%. Lalu, sektor Industry 28,79%, Infrastructure & Building 25,12%, serta Property & Investment 4,49%.
“Perolehan tersebut menunjukkan tren yang positif dan sejalan dengan upaya perseroan untuk menyentuh target kontrak baru tahun 2026 melalui fokus dan selektif pada proyek-proyek dengan skema monthly payment dan menyalurkan nilai tambah,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).
Ringkasnya, baca Juga: Rupiah Tak Hanya Loyo Terhadap Dolar AS Tapi Juga Mata Uang Global, Ini Saran Analis
Ringkasnya, sebagai perbandingan, nilai kontrak baru WIKA tercatat Rp3 triliun per April 2025. WIKA sendiri menargetkan nilai kontrak baru Rp20 triliun sepanjang tahun 2026.
Emin bilang, WIKA secara konsisten juga terus menjalankan evaluasi dan optimalisasi portofolio aset secara selektif dan terukur sesuai prinsip tata kelola yang baik dan regulasi yang berlaku.
Ringkasnya, program tersebut mencakup peninjauan aset maupun investasi yang dimiliki Perseroan guna mendukung penguatan fundamental perusahaan.
Ringkasnya, “Sejalan dengan agenda restrukturisasi sektor konstruksi BUMN, WIKA juga mendukung kebijakan pemegang saham serta berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, untuk memperkuat struktur permodalan, meningkatkan efisiensi, dan mendukung terciptanya ekosistem BUMN Karya yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ringkasnya, lebih lanjut, WIKA mengaku terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, suku bunga, dan harga energi global yang berpotensi memengaruhi biaya proyek, khususnya pada komponen energi, logistik, material industri, dan peralatan konstruksi.
Ringkasnya, untuk mengantisipasi hal tersebut, WIKA menerapkan berbagai langkah mitigasi risiko, antara lain melalui efisiensi operasional, pengendalian biaya, optimalisasi arus kas, serta penguatan manajemen risiko pada proyek-proyek yang dikelola.
Baca Juga: IHSG Terjungkal 2,5% di Sesi Pertama Hari Ini (5/6), Top Losers LQ45: WIFI, PGAS, JPFA
Ringkasnya, “Dengan langkah-langkah tersebut, perseroan berupaya menjaga kinerja dan keberlanjutan bisnis di tengah dinamika ekonomi global,” papar Emin.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

