Jakarta, CNBC Indonesia — Emiten infrastruktur telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) berencana menggabungkan dua entitas anak usahanya, yakni PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT), ke dalam perseroan. Langkah merger internal tersebut dijadwalkan efektif pada 1 Juli 2026.
Dalam ringkasan rancangan penggabungan usaha yang diterbitkan 8 Mei 2026, MTEL mengungkap aksi korporasi ini telah memperoleh persetujuan dewan komisaris masing-masing perusahaan pada 6 Mei 2026. Adapun rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta restu para pemegang saham dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni 2026.
Merger dilakukan dengan skema MTEL sebagai perusahaan penerima penggabungan, sementara PST dan UMT diproyeksikan berakhir demi hukum tanpa proses likuidasi sesudah aksi efektif berjalan. Seluruh aset, liabilitas, hak, dan kewajiban PST maupun UMT nantinya otomatis beralih ke MTEL.
Manajemen mengungkap penggabungan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi MTEL sebagai platform infrastruktur digital terintegrasi atau Next-Gen TowerCo. Perseroan juga akan menambah sejumlah kegiatan usaha baru melalui penambahan kode KBLI, mulai dari layanan akses internet, Internet of Things (IoT), managed services, hingga penyediaan tenaga kerja teknis. "Penambahan KBLI 61104,61909,62204, dan 78200 adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi MTEL sebagai platform infrastruktur digital terintegrasi (Next-Gen TowerCo) serta mendukung optimalisasi peluang pasar pasca merger PST dan UMT," tulis manajemen dalam dokumen tersebut, dikutip Jumat (8/5/2026).
MTEL menekankan merger tidak akan mengubah struktur pemegang saham perseroan karena PST dan UMT adalah anak usaha yang 100% sahamnya dimiliki MTEL. Dengan demikian, aksi ini tidak menimbulkan dilusi kepemilikan maupun perubahan pengendali.
Kini, pemegang saham utama MTEL adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan kepemilikan 71,83% saham. Sementara Pemerintah Singapura menggenggam 5,33% dan PT Maleo Investasi sebesar 5,98%.
Dari sisi kinerja, MTEL membukukan pendapatan Rp9,53 triliun sepanjang 2025, naik dibandingkan Rp9,30 triliun pada 2024. Laba tahun berjalan tercatat Rp2,11 triliun dengan total aset menyentuh Rp58,35 triliun.
Manajemen menilai penggabungan PST dan UMT tidak diproyeksikan berdampak material terhadap kondisi keuangan konsolidasian MTEL lantaran kedua entitas tersebut selama ini memang sudah terkonsolidasi dalam laporan keuangan perseroan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

