PT Astra International Tbk (ASII) membukukan kinerja yang menurun pada kuartal I-2026. Perubahan strategi perusahaan yang fokus pada penciptaan nilai (value creation) dibanding diversifikasi bisnis diproyeksi menjadi penentu kinerja ASII ke depan.
Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia membukukan pergeseran Astra menuju portofolio yang terfokus ketimbang portofolio yang terdiversifikasi. Fokus tersebut diperjelas pada tiga mesin inti yakni segmen bisnis otomotif, pembiayaan (financial services), dan pertambangan.
Manajemen juga akan menjalankan program pembelian kembali saham saham yang berkelanjutan, dengan anggaran Rp8 triliun dalam 12 bulan ke depan. Serta fokus pada pengembalian investasi bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan. Manajemen juga akan selektif dalam menjalankan merger dan akuisisi. Pertimbangannya mencakup pada apakah aset tersebut sesuai dengan ekosistem Astra.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Terangkat Terbatas, Cermati Rekomendasi Saham Rabu (10/6)
“Jika tidak, aset tersebut diproyeksikan berdiri sendiri tetapi harus signifikan terhadap pendapatan, dengan pengembalian di atas tingkat ambang batas dan jalur menuju kendali,” ujar Igor dalam risetnya pada 26 Mei 2026.
Igor menilai poin-poin tersebut secara struktural menggeser perubahan perilaku Astra. Menurutnya, Astra tidak diproyeksikan mengeluarkan dana secara berlebihan, mengingat pertumbuhan yang terfokus, menekankan pengembalian dan pertumbuhan pendapatan. Igor melihat peluang yang meningkat untuk akuisisi dan merger di masa depan dengan kontribusi pendapatan langsung, jika tidak, Astra diproyeksikan menghemat modal.
Astra mengisyaratkan kerangka kerja mengalokasikan kembali modal terhadap aset dengan nilai ekosistem yang terbatas, jalur yang tidak jelas menuju pengendalian dan kinerja yang buruk. Hal itu menyiratkan bahwa divestasi aset dimungkinkan. CEO Astra Rudy, menuturkan rencana kompensasi berbasis saham selama tiga tahun akan memotivasi tim manajemen.
“Penurunan nilai saham Astra dapat dilindungi, mengingat komitmen pembelian kembali (pembelian kembali saham) saham, misalnya mungkin Rp2 triliun setiap kuartal,” kata Igor.
Ester Mulyani, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori menuturkan, prospek kinerja ASII pada kuartal III - 2026 cenderung gradual recovery, belum mengarah ke pemulihan yang agresif.
Kinerja kuartal I-2026 memang menjadi basis yang cukup lemah, dengan pendapatan konsolidasi turun 6% yoy menjadi Rp78,7 triliun dan laba bersih turun 16% yoy menjadi Rp5,9 triliun. Tekanan terbesar datang dari segmen Heavy Equipment, Mining, Construction & Energy (HEMCE), sementara segmen otomotif, financial services, agribusiness, infrastruktur, IT, dan properti masih membukukan pertumbuhan laba.
Baca Juga: Inocycle Technology (INOV) Kejar Target Penjualan Mengalami kenaikan 5% pada Tahun 2026
Pemulihan ASII pada kuartal II dan kuartal III akan banyak ditopang oleh perbaikan pasar otomotif. Penjualan mobil nasional mulai membaik. Secara kumulatif Januari-Mei 2026, penjualan mobil nasional meningkat 12,8% yoy menjadi 359.015 unit.
Untuk Astra sendiri, penjualan 4W pada April 2026 meningkat ke 41.800 unit, meningkat 55% yoy, dengan market share kembali naik ke 51,7%. Sementara itu, secara kumulatif pada empat bulan pertama di 2026, market share Astra masih 49,5%, lebih rendah dari 53,5% pada empat bulan di 2025, alhasil pemulihan volume belum sepenuhnya menghapus risiko kompetisi.
“Segmen financial services masih berpotensi berubah menjadi penopang yang stabil karena didukung ekosistem pembiayaan mobil dan motor Astra,” ujar Ester kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).
Ester membukukan pada kuartal I-2026, laba segmen financial services naik 6% yoy menjadi Rp2,3 triliun. Sementara itu, kenaikan BI Rate ke 5,50% tetap perlu dicermati karena bisa menahan pertumbuhan pembiayaan kendaraan, terutama jika biaya kredit meningkat atau approval pembiayaan menjadi lebih ketat.
Ester melihat ASII masih menghadapi beberapa tantangan besar hingga kuartal III-2026. Pertama, dari daya akumulasi. Suku bunga tinggi yang akan mempengaruhi permintaan kredit kendaraan. Kedua, tantangan dari sisi pelemahan rupiah yang akan membebani biaya bahan baku, komponen impor dan logistik.
Ketiga, tekanan market share di segmen 4W, terutama dari Original Equipment Manufacturer (OEM) China dan kendaraan listrik (EV). Walaupun penjualan Astra membaik pada April, market share kumulatif pada empat bulan pertama di 2026 masih lebih rendah dari tahun sebelum itu. Kompetisi dari Chinese OEM, khususnya EV, menjadi salah satu alasan market share Astra belum kembali ke level historis.
Baca Juga: Selenggarakan RUPST, Aneka Tambang (ANTM) Berencana Bagi Dividen Tunai Rp5,05 Triliun
Keempat, pemulihan HEMCE yang belum sepenuhnya pasti. Pada kuartal I – 2026, laba HEMCE mengalami pelemahan 79% yoy berubah menjadi Rp408 miliar, dipengaruhi penjualan Komatsu yang mengalami pelemahan 20% yoy, overburden removal Pama mengalami pelemahan 7% yoy, serta penjualan emas mengalami pelemahan 93% yoy karena penghentian sementara operasi tambang Martabe.
“Jadi, walaupun otomotif mulai membaik, pemulihan laba konsolidasi ASII masih sangat bergantung pada normalisasi UNTR, Pama, Komatsu, dan Martabe,” terang Ester.
Christofer Kojongian, Analis Sucor Sekuritas memperkirakan laba bersih tahun 2026 akan sedikit menurun sebesar 1% yoy menjadi Rp32,5 triliun, terutama mencerminkan kontribusi terkait komoditas yang lebih lemah menyusul hilangnya produksi emas Martabe karena penghentian produksi dan kuota batubara RKAB yang lebih rendah, ditambah dengan daya akumulasi yang lemah yang membebani segmen otomotif.
“Ke depan, kami memproyeksikan Compound Annual Growth Rate (CAGR) pendapatan yang rendah senilai 1% selama tiga tahun ke depan, karena ketidakpastian kebijakan di sektor komoditas, persaingan Tiongkok yang semakin ketat di sektor otomotif 4W dan alat berat, serta volume batubara domestik yang lebih rendah terus membatasi lintasan pertumbuhan PAMA,” jelas Christofer dalam risetnya pada 26 Mei 2026.
Christofer memproyeksikan pendapatan dan laba bersih masing – masing senilai Rp325,76 triliun dan Rp32,52 triliun. Adapun pada tahun 2025, ASII mengantongi pendapatan Rp323,39 triliun dan laba bersih Rp32,76 triliun.
Ringkasnya, christofer merekomendasikan hold saham ASII dengan target harga Rp5.900 per saham. Igor merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga Rp7.750 per saham.
Baca Juga: BI-Rate Mengalami kenaikan Buat Jaga Rupiah, Fundamental Ekonomi Masih Jadi Kunci
Ringkasnya, sementara Ester merekomendasikan trading buy saham ASII dengan target harga Rp5.500 – Rp5.700 per saham dengan asumsi didukung perbaikan sentimen pasar.
Sebab, saham ASII kini masih berada dalam fase downtrend, tetapi mulai ada peluang technical rebound dari area support parallel channel. Momentum penurunan mulai terkoreksi, meskipun net sell asing masih menjadi tekanan utama. Untuk investor jangka panjang, sebaiknya tetap menunggu konfirmasi pemulihan kinerja, terutama dari otomotif dan HEMCE.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

